Ada Selisih Rendemen Gabah, Gubernur Sumsel Minta Ditelusuri

Ada Selisih Rendemen Gabah, Gubernur Sumsel Minta Ditelusuri

Bagikan:

Perbedaan tingkat rendemen penggilingan gabah di sejumlah wilayah Sumatera Selatan menjadi sorotan karena dapat memengaruhi nilai ekonomi hasil panen petani.

PALEMBANG – Perbedaan tingkat rendemen penggilingan gabah di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi perhatian Gubernur Sumsel Herman Deru. Hasil pengecekan menunjukkan rendemen pada salah satu Rice Milling Unit (RMU) di Palembang mencapai sekitar 51 persen, sedangkan di wilayah lain berada pada kisaran 48-49 persen.

Deru meminta perbedaan tersebut ditelusuri, terutama karena kualitas padi yang disebut relatif sama. Hal itu disampaikannya di Palembang, Rabu, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis, (24/09/2026).

“Saran saya kepada Bulog, rendemen juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Menurut Deru, perbedaan hasil penggilingan tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan nilai ekonomi gabah setelah melalui proses penggilingan. Ia menyebut persoalan itu telah dikomunikasikan dengan Perum Bulog dan dirinya siap menjadi saksi untuk memastikan perbedaan rendemen tersebut dapat ditelusuri.

“Kenapa di salah satu wilayah lain di Sumatera Selatan ini ada yang 49 persen, 48 atau 49 persen? Kok ada beda? Sementara padi kita kualitasnya sama,” katanya.

Perbedaan rendemen tersebut muncul di tengah kondisi harga gabah petani Sumsel yang justru berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Saat ini, gabah di tingkat petani dihargai sekitar Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram, sedangkan HPP gabah berada pada angka Rp6.500 per kilogram.

Deru menilai harga yang lebih tinggi dari HPP memberikan keuntungan bagi petani. Menurutnya, kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika harga pembelian berada di bawah batas yang ditetapkan pemerintah.

“Kalau dia di atas Rp6.500, artinya HPP kita Rp6.500, dan ada yang menawarkan lebih tinggi dari situ, tentu menguntungkan petani,” kata Gubernur Sumsel Herman Deru.

Harga tersebut juga berkaitan dengan persaingan penyerapan gabah antara pembeli dari dalam dan luar daerah. Deru mempertanyakan kemampuan pedagang luar Sumsel menawarkan harga lebih tinggi kepada petani.

“Pertanyaannya, kenapa pembeli dari luar sanggup harga lebih tinggi? Apakah pembeli dari luar cukup dengan untung tipis, sementara kita mau untungnya besar?” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura) Sumsel Bambang Pramono mengatakan produksi beras di daerah tersebut masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat meskipun sebagian gabah diserap pedagang dari luar daerah.

Dengan jumlah penduduk hampir 9 juta jiwa, kebutuhan konsumsi beras Sumsel mencapai sekitar 72 ribu ton per bulan atau 850 ribu ton per tahun. Sementara itu, produksi beras pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 2,1 juta ton sehingga Sumsel masih mengalami surplus produksi.

“Meski sebagian gabah diserap pedagang dari luar daerah, produksi Sumsel masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat,” katanya.

Pedagang dari luar Sumsel, salah satunya berasal dari Sumatera Barat, disebut mampu membeli gabah dengan harga lebih tinggi karena memiliki pasar beras dengan harga jual yang juga lebih tinggi.

“Pedagang-pedagang dari luar Sumatera Selatan itu masih mampu membelinya karena mereka punya harga jual yang lebih tinggi,” ujarnya.

Perbedaan rendemen dan persaingan harga menjadi dua hal yang berlangsung dalam penyerapan hasil panen Sumsel. Penelusuran terhadap perbedaan rendemen di sejumlah wilayah diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai hasil penggilingan dan nilai ekonomi gabah setelah diproses. []

Redaksi08.

Bagikan:
Headlines Nasional