Anggota Parlemen Australia Kritis Ditabrak Mobil, Pria 43 Tahun Ditangkap

Anggota Parlemen Australia Kritis Ditabrak Mobil, Pria 43 Tahun Ditangkap

Bagikan:

Anggota parlemen Australia Helen Haines masih kritis setelah ditabrak mobil di Wangaratta, sementara polisi menyelidiki dugaan penyerangan yang disengaja dan mendalami motif seorang pria yang telah ditangkap.

CANBERRA – Penyelidikan dugaan penabrakan terhadap anggota parlemen independen Australia, Helen Haines, terus dikembangkan setelah seorang pria berusia 43 tahun ditangkap. Haines berada dalam kondisi kritis setelah ditabrak mobil di luar kantornya di Wangaratta, Negara Bagian Victoria, Australia, pada Senin (19/10/2026).

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menilai insiden tersebut bukan kecelakaan lalu lintas biasa. Berdasarkan informasi awal, kendaraan yang menabrak Haines sempat berputar balik sebelum menghantam korban. Polisi masih menyelidiki motif kejadian dan mempertimbangkan kemungkinan dakwaan terhadap terduga pelaku.

“Jelas bahwa ada tindakan yang disengaja dalam kejadian ini. Ini bukan kecelakaan akibat seseorang kehilangan kendali dan tergelincir keluar dari jalan,” kata Albanese kepada ABC News, Selasa (20/10/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa, (20/10/2026).

Haines menjalani operasi pada Senin malam waktu setempat, tetapi kondisinya masih kritis. Sejumlah media Australia melaporkan, dengan mengutip sumber anonim, bahwa korban kehilangan salah satu kakinya dan tim medis berupaya menyelamatkan kaki lainnya. Namun, informasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi dalam laporan Reuters.

Berdasarkan penyelidikan awal, Haines diduga sedang memasukkan atau mengeluarkan barang dari bagasi mobilnya ketika sebuah Toyota Land Cruiser putih menabraknya. Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke menyebut, berdasarkan keterangan saksi, pengemudi diduga memundurkan kendaraan dan kembali menabrak korban sebelum seorang warga turun tangan.

Warga setempat, Ricky Jefferies, menjadi salah satu orang yang berupaya menghentikan terduga pelaku. Jefferies, yang bekerja di tempat pangkas rambut dekat lokasi kejadian, bergegas keluar setelah mendengar suara benturan keras.

“Saya mendengar suara benturan keras tanpa suara rem. Kejadiannya benar-benar mengejutkan. Saya langsung berlari ke depan untuk melihat apa yang terjadi,” ujar Jefferies kepada wartawan di luar tempat kerjanya.

Awalnya, Jefferies mengira kejadian tersebut merupakan kecelakaan lalu lintas biasa. Setelah menyadari keseriusan situasi, ia membantu menghentikan pria yang diduga terlibat dan mengambil sebilah pisau yang dibawanya.

“Awalnya saya tidak menyadari betapa serius situasinya. Setelah memahami apa yang terjadi, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, seperti yang sudah diupayakan orang-orang lain di sana,” katanya.

Kepolisian Australia menangkap seorang pria berusia 43 tahun yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Sejumlah lembaga penegak hukum, termasuk otoritas kontraterorisme, turut dilibatkan untuk mendalami perkara. Meski demikian, keterlibatan lembaga tersebut tidak berarti bahwa serangan itu telah dinyatakan sebagai aksi terorisme.

Penyidik masih menelaah kemungkinan dakwaan, termasuk pelanggaran yang menyebabkan cedera terhadap pejabat publik. Berdasarkan ketentuan hukum yang disebutkan dalam laporan, pelanggaran tersebut dapat diancam hukuman maksimal 10 tahun penjara. Namun, motif kejadian dan dakwaan resmi terhadap tersangka belum diumumkan.

Komisioner Kepolisian Federal Australia Krissy Barrett mengatakan, berdasarkan informasi sementara, insiden tersebut tampaknya tidak berkaitan dengan serangan lain.

“Pada tahap ini, insiden tersebut tampaknya merupakan kejadian yang berdiri sendiri,” ujar Barrett.

Haines merupakan anggota parlemen independen yang pertama kali terpilih pada 2019 untuk mewakili daerah pemilihan Indi. Sebelum berkarier di politik, ia bekerja di bidang keperawatan, kebidanan, dan akademis. Ia kembali mempertahankan kursinya dalam pemilihan umum pada 2022 dan 2025.

Kasus ini memicu perhatian terhadap keselamatan pejabat publik di Australia, tempat anggota parlemen selama ini relatif leluasa berinteraksi dengan masyarakat. Insiden tersebut juga terjadi di tengah kekhawatiran mengenai meningkatnya ancaman terhadap politisi dan menguatnya polarisasi politik.

Shawn Hill, warga Melbourne yang berada di luar rumah sakit tempat Haines dirawat, menilai situasi politik saat ini semakin terbelah.

“Iklim politik saat ini menjadi semakin terpolarisasi,” kata Hill kepada Reuters.

Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya membuat seseorang menghadapi ancaman keselamatan.

“Tidak seorang pun pantas berada dalam bahaya, terutama seseorang yang melayani masyarakat dan berusaha melakukan yang terbaik bagi warga Australia,” ujarnya.

Albanese juga menyerukan agar masyarakat menahan diri dan menjaga penghormatan di tengah perbedaan politik. Ia mengingatkan bahwa meningkatnya ancaman terhadap politisi tidak boleh berkembang menjadi permusuhan maupun kekerasan.

“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk meredakan ketegangan,” kata Albanese.

“Saya benar-benar tidak ingin melihat karakter Australia berubah,” tambahnya.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, polisi masih mendalami keterangan saksi dan bukti terkait penabrakan itu. Pengungkapan motif serta penetapan dakwaan akan menjadi bagian penting dalam memastikan pertanggungjawaban hukum atas serangan terhadap Haines. []

Redaksi 03

Bagikan:
Internasional Kriminal