Bentrok Dua Suku di Jayawijaya Berujung Jembatan Roboh

Bentrok Dua Suku di Jayawijaya Berujung Jembatan Roboh

Bagikan:

JAYAWIJAYA – Bentrokan antara dua kelompok warga dari suku Pirime dan suku Kurima di Distrik Woma, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Jumat (15/05/2026), memicu tragedi baru setelah jembatan gantung di Kali UE roboh dan menyebabkan puluhan warga hanyut saat berupaya melintas.

Peristiwa tersebut terjadi di tengah aksi saling serang kedua kelompok yang menggunakan busur dan panah, senjata tajam, serta lemparan batu. Hingga Jumat (15/05/2026) siang, aparat gabungan bersama warga masih melakukan pencarian terhadap korban yang dilaporkan hilang akibat hanyut di aliran kali.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Patrige Renwarin mengatakan bentrokan dipicu sengketa denda adat terkait kecelakaan lalu lintas pada 2024 yang menewaskan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lanny Jaya.

“Bentrok kedua kelompok ini karena persoalan denda adat atas kejadian kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPRD dari Lanny Jaya pada tahun 2024. Di mana mediasi pembayaran denda adat mengalami kebuntuan hingga berujung pada aksi saling serang kedua kelompok,” kata Patrige di Kota Jayapura, sebagaimana dilansir Kompas, Jumat, (15/05/2026).

Di tengah konflik yang berlangsung, massa dari suku Pirime melintasi jembatan gantung di Kali UE. Namun, jembatan tersebut roboh hingga menyebabkan banyak warga terjatuh dan terbawa arus sungai.

“Selain masalah pembayaran denda adat, ada juga tragedi lain yakni jembatan Kali UE roboh saat dilintasi massa dari suku Pirime yang menyebabkan puluhan orang hanyut ke kali dan sampai saat ini masih dalam pencarian,” ujar Patrige.

Untuk mengantisipasi jatuhnya korban lebih banyak, Kepolisian Daerah (Polda) Papua mengerahkan personel tambahan ke sejumlah titik rawan bentrokan. Aparat juga melakukan penyekatan guna mencegah konflik meluas ke wilayah lain di Jayawijaya.

“Langkah pengamanan terus diperkuat dengan menempatkan personel di titik-titik rawan serta melakukan koordinasi intensif bersama tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah,” katanya.

Menurut Patrige, penyelesaian konflik saat ini diprioritaskan melalui pendekatan dialog dan adat dengan melibatkan tokoh masyarakat serta pemerintah daerah setempat. Langkah mitigasi terus dilakukan agar situasi keamanan di Papua Pegunungan tetap terkendali.

“Polda Papua bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus berupaya melakukan langkah-langkah mitigasi agar situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Pendekatan dialog, adat, dan pelibatan tokoh agama menjadi prioritas dalam penyelesaian persoalan ini,” ujar Patrige. []

Redaksi05

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews Kriminal