TEL AVIV – Berakhirnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran justru memicu perdebatan politik di Israel. Klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai keberhasilan operasi militer menghadapi Iran mendapat kritik keras dari kelompok oposisi yang menilai sejumlah target strategis belum tercapai.
Dalam konferensi pers pada Senin (15/06/2026), Netanyahu menegaskan bahwa tujuan utama Israel untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir telah tercapai. Namun, ia mengakui belum mengetahui rincian kesepakatan damai antara AS dan Iran yang akan ditandatangani di Swiss.
“Dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir — tidak hari ini dan tidak besok. Selama saya menjadi perdana menteri Israel, itu tidak akan terjadi,” kata Netanyahu.
Netanyahu menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai “misi hidupnya”. Ia juga mengklaim operasi militer gabungan Israel dan AS berhasil menghilangkan ancaman langsung dari Teheran.
“Kami meluncurkan operasi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” ujar Netanyahu.
Pria berusia 76 tahun itu kemudian memaparkan sejumlah klaim keberhasilan operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
“Kami menargetkan para ilmuwan nuklir; kami menghilangkan para pemimpin rezim; kami menghancurkan fasilitas nuklir; kami menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik yang memproduksi rudal,” katanya.
“Kami menyerang industri militer dan infrastruktur yang tak terhitung jumlahnya. Kami menghancurkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka. Kami menghabisi para komandan pangkalan yang membantai rakyat Iran,” lanjutnya.
Meski demikian, laporan menyebut Israel tidak dilibatkan secara langsung dalam proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Kesepakatan tersebut telah ditandatangani secara digital pada Minggu (14/06/2026) dan dijadwalkan ditandatangani resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Netanyahu membantah anggapan bahwa operasi militer Israel gagal karena rezim Iran tetap bertahan pascaperang.
“(Operasi militer) itu sama sekali tidak gagal. Saya mendefinisikan tujuan — dan kabinet juga mendefinisikan tujuan — secara berbeda dari yang Anda katakan,” ujarnya kepada wartawan.
“Kami mengatakan ingin menghilangkan bahaya eksistensial dari atas kami: Pertama, bahaya nuklir — dan kami berhasil melakukannya. Kami mengatakan ingin menghilangkan bahaya (rudal balistik) dari atas kami — dan kami berhasil melakukannya,” kata Netanyahu.
Ia juga menyebut kondisi ekonomi Iran mengalami tekanan besar akibat perang dan meyakini terdapat retakan dalam pemerintahan negara tersebut.
“Iran berada dalam situasi ekonomi yang sangat sulit. Kami menyerang setiap infrastruktur yang memungkinkan di sana. Kerusakannya sangat besar. Ada juga retakan di dalam rezim ini,” katanya.
“Bisakah saya memberi tahu Anda kapan rezim ini akan jatuh? Saya tidak tahu. Apakah saya bisa memberi tahu Anda kapan rezim Soviet akan jatuh? Tidak. Saya tidak bisa memberi tahu Anda,” lanjutnya.
Netanyahu turut membantah tudingan bahwa Israel kehilangan kendali strategis setelah perang dihentikan dan negosiasi dipimpin AS.
“Di Amerika Serikat, mereka mengatakan bahwa Presiden Trump melakukan semua yang saya minta, dan di Israel, mereka mengatakan sebaliknya, bahwa saya melakukan semua yang dia minta. Keduanya tidak benar,” kata Netanyahu.
“Kami memiliki hubungan sebagai mitra yang saling mengenal. Sering kali kami sepakat; terkadang kami tidak sepakat. Itu terjadi dalam keluarga terbaik sekalipun,” ujarnya.
Netanyahu menegaskan Israel tetap memiliki ruang gerak independen dalam mengambil keputusan strategis.
“Israel telah membuktikan bahwa kami melakukan hal-hal besar dan kami memimpin banyak hal. Kami berinisiatif, kami bertindak, kami mengejutkan, dan kami juga menang,” ujar Netanyahu.
Namun, sejumlah tokoh oposisi mempertanyakan klaim kemenangan tersebut. Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menilai pemerintahan Netanyahu gagal menghadapi Iran.
“Pemerintahan Netanyahu ini dimulai dengan perang saudara, berlanjut dengan pembantaian 7 Oktober, dan sekarang berakhir dengan kegagalan bersejarah melawan Iran,” kata Bennett.
Pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, menilai Netanyahu seharusnya mengakui target yang tidak tercapai.
“Akan lebih baik bagi Netanyahu untuk mengatakan, ‘Saya salah, saya menetapkan tujuan yang salah yang tidak bisa saya capai.’ Ini akan memberi Netanyahu lebih banyak penghargaan dan rasa hormat dari rakyat, jika dia mengakui bahwa dia membuat pernyataan kosong,” ujar Eisenkot.
Pemimpin oposisi Yair Lapid juga mengkritik narasi pemerintah terkait hasil perang.
“Anda bisa berpendapat bahwa kami adalah kekuatan yang dekat dengan dominasi regional, Anda bisa berpendapat bahwa kami berada dalam bahaya kehancuran dan satu langkah dari kematian massal, tetapi Anda tidak bisa membuat kedua argumen itu, apalagi dalam waktu yang sama,” tulis Lapid.
Sementara itu, pemimpin Partai Demokrat, Yair Golan, menyebut klaim Netanyahu justru menunjukkan kegagalan jika ancaman Iran benar-benar menjadi prioritas utama selama bertahun-tahun. Informasi ini sebagaimana dilansir Kompas, Selasa, (16/06/2026).
“Jika Anda menghabiskan sebagian besar hidup Anda untuk melawan ancaman Iran, dan Anda mengatakan kami hampir mengalami kehancuran, maka Anda gagal dalam misi hidup Anda. Kami menghargai kejujurannya,” kata Golan.
Kesepakatan damai AS-Iran menandai berakhirnya konflik bersenjata, tetapi perdebatan mengenai hasil perang dan dampaknya terhadap keamanan kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan terus berlangsung di panggung politik Israel. []
Redaksi05

