Delapan Tewas dalam Serangan Rusia Saat G7 Perketat Tekanan ke Moskow

Delapan Tewas dalam Serangan Rusia Saat G7 Perketat Tekanan ke Moskow

Bagikan:

KYIV – Serangan terbaru Rusia di sejumlah wilayah Ukraina menewaskan sedikitnya delapan orang di saat negara-negara anggota Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) sepakat meningkatkan tekanan terhadap Moskow guna mendorong berakhirnya perang yang telah berlangsung selama empat tahun.

Serangan terjadi di beberapa wilayah Ukraina pada Selasa (16/06/2026), bertepatan dengan pertemuan para pemimpin G7 dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di resor Evian, Prancis. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin negara maju itu menyepakati langkah untuk memperketat sanksi terhadap Rusia.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, konflik berkepanjangan telah menelan ratusan ribu korban jiwa, baik dari kalangan sipil maupun militer. Sebagian besar wilayah Ukraina juga terus terdampak pertempuran dan serangan lintas wilayah.

Gubernur Regional Dnipropetrovsk Oleksandr Ganzha menyatakan serangan pesawat tanpa awak atau drone Rusia terhadap sebuah mobil di wilayah tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

“Serangan itu merenggut nyawa seorang ibu dan anak laki-laki — seorang wanita berusia 87 tahun dan seorang pria berusia 51 tahun. Aparat penegak hukum saat ini sedang berupaya mengidentifikasi korban ketiga yang tewas,” kata Oleksandr, sebagaimana dilansir Detik pada Rabu, (17/06/2026).

Selain di Dnipropetrovsk, serangan artileri Rusia di Kota Sloviansk, wilayah Donetsk, juga menewaskan tiga orang. Sementara itu, serangan drone di wilayah Kherson bagian selatan dilaporkan menewaskan dua orang dan melukai 16 lainnya.

Di tengah meningkatnya serangan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden Zelensky. Seusai pertemuan tersebut, Trump menegaskan bahwa Rusia perlu mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Zelensky juga kembali menawarkan pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di AS guna membahas perdamaian. Namun, pemerintah Rusia melalui Kremlin menyatakan belum menerima proposal tersebut.

Sebelumnya, Putin menyebut dirinya “tidak melihat gunanya” bertemu Zelensky hingga kesepakatan damai benar-benar siap dibahas. Pernyataan tersebut mencerminkan masih lebarnya perbedaan posisi kedua negara dalam upaya mengakhiri perang.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi dan tekanan internasional masih berjalan beriringan dengan eskalasi konflik di lapangan. Harapan menuju perdamaian tetap terbuka, namun situasi keamanan di Ukraina masih menghadapi tantangan besar seiring berlanjutnya serangan lintas wilayah. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang