Mantan kepala Shin Bet Ronen Bar menggugat Benjamin Netanyahu sebesar tiga juta shekel atas dugaan pencemaran nama baik di tengah polemik tanggung jawab atas kegagalan Israel mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
TEL AVIV – Perselisihan mengenai tanggung jawab atas kegagalan Israel mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memasuki ranah hukum setelah mantan kepala badan keamanan dalam negeri Israel, Ronen Bar, menggugat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas dugaan pencemaran nama baik. Bar menuntut ganti rugi sebesar tiga juta shekel atau sekitar Rp17 miliar karena menilai Netanyahu menyampaikan tuduhan yang merusak reputasinya.
Bar menuding Netanyahu berupaya mengalihkan tanggung jawab atas kegagalan mengantisipasi serangan tersebut dengan menyatakan tidak menerima informasi darinya ketika masih menjabat sebagai kepala Shin Bet. Bar menegaskan telah menghubungi sekretaris militer perdana menteri, Avi Gil, setelah mendeteksi indikasi kemungkinan serangan. Ia mengaku tidak menelepon Netanyahu secara langsung karena tidak memiliki nomor teleponnya.
“Netanyahu telah membuat tuduhan yang dia ketahui palsu, dengan tujuan mengalihkan perdebatan dari tanggung jawabnya sendiri atas peristiwa 7 Oktober,” kata Bar, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (15/10/2026).
Bar juga menilai kebijakan Netanyahu selama beberapa tahun sebelumnya justru meningkatkan ancaman terorisme dari Gaza. Melalui gugatan tersebut, Bar mempersoalkan pernyataan Netanyahu yang dianggap mencoreng reputasinya dalam persoalan yang masih menjadi sorotan publik Israel.
Netanyahu membantah tudingan Bar melalui pernyataan yang dirilis partainya, Likud. Ia mempertanyakan alasan Bar tidak menghubunginya secara langsung ketika indikasi serangan mulai terdeteksi.
“Ronen, Anda serius? Anda punya nomor saya di saluran utama dan bisa langsung menghubungi saya, seperti yang dilakukan semua kepala keamanan,” kata Netanyahu.
“Berapa banyak nyawa yang bisa kita selamatkan jika saja Anda menelepon tepat waktu?” ujarnya lagi.
Bar mengundurkan diri dari jabatan kepala Shin Bet pada Juni 2025 di tengah kecaman publik atas kegagalan aparat keamanan Israel mengantisipasi serangan Hamas. Serangan tersebut menewaskan 1.221 orang dan tercatat sebagai serangan paling mematikan dalam sejarah Israel.
Kontroversi itu kembali menguat setelah Avi Gil, yang menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu pada Juli 2021 hingga Mei 2024, mengungkap dugaan perubahan catatan komunikasi terkait serangan tersebut. Dalam wawancara dengan Channel 12, Gil mengatakan kantor Netanyahu telah “memalsukan catatan terkait 7 Oktober 2023”.
Gil mengaku mendapat perintah dari seorang stenografer di kantor perdana menteri pada Januari 2024 untuk mengubah waktu rekaman panggilan penting berdurasi empat menit, dari pukul 06.40 menjadi pukul 06.29. Ia menegaskan tidak diperbolehkan mengubah catatan tersebut.
“Dia memberi tahu saya bahwa saya tidak diizinkan untuk mengubahnya. Itu adalah fakta,” kata Gil.
Gugatan Bar dan pengakuan Gil muncul menjelang pemilihan umum (pemilu) Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Jajak pendapat terbaru menunjukkan popularitas Netanyahu dan Likud merosot, di tengah kritik atas kegagalan mengantisipasi serangan Hamas serta pengecualian pria ultra-Ortodoks dari program wajib militer.
Perkembangan ini menambah tekanan politik terhadap Netanyahu sekaligus membuka kembali perdebatan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023. Proses gugatan Bar akan menjadi salah satu sorotan dalam perselisihan yang mempertemukan persoalan reputasi pribadi, akuntabilitas pejabat, dan kepentingan politik menjelang pemilu. []
Redaksi 03

