Kebakaran yang menghanguskan 974,3 hektare lahan di Gunung Sumbing telah padam, tetapi hilangnya tutupan vegetasi meningkatkan perhatian terhadap potensi erosi, sedimentasi, dan banjir saat musim penghujan.
JAWA TENGAH – Lahan seluas 974,3 hektare di Gunung Sumbing yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi meningkatkan risiko banjir saat musim penghujan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kini mencermati ancaman tersebut meskipun kebakaran yang terjadi sepanjang pekan lalu telah dinyatakan padam.
Kepala Pelaksana BPBD Temanggung Totok Nursetyanto mengatakan, hilangnya vegetasi berupa rumput dan ilalang di kawasan terdampak dapat meningkatkan risiko erosi, sedimentasi, hingga banjir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi lebih rentan mengalami pengikisan tanah ketika hujan turun.
“Karena hilangnya rumput dan ilalang, ada peningkatan potensi erosi, sedimentasi, dan banjir,” kata Totok saat dihubungi Kompas pada Selasa (27/10/2026), sebagaimana dilansir Kompas, Selasa, (27/10/2026).
Padamnya api belum sepenuhnya mengakhiri risiko bencana di kawasan Gunung Sumbing. Dampak kebakaran terhadap kondisi permukaan tanah justru menjadi perhatian berikutnya, terutama ketika curah hujan meningkat dan air mengalir melalui lahan yang kehilangan tutupan vegetasi.
Erosi dapat membawa material tanah ke wilayah yang lebih rendah dan memicu sedimentasi pada aliran air. Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan hujan deras, risiko banjir di kawasan terdampak maupun daerah di sekitarnya perlu diwaspadai.
Pemantauan terhadap kondisi lahan pascakebakaran menjadi penting untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi pada musim penghujan. Upaya pemulihan tutupan vegetasi juga perlu mendapat perhatian agar fungsi lahan dalam menahan tanah dan membantu mengurangi limpasan air dapat kembali pulih. []
Redaksi 1

