TEL AVIV – Upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menghadapi hambatan baru setelah Teheran menghentikan sementara dialog melalui mediator. Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya mengakhiri kekuasaan rezim Iran.
Pernyataan Netanyahu disampaikan saat acara pelantikan Roman Gofman sebagai kepala badan intelijen Israel, Mossad, pada Selasa (02/06/2026). Sikap tegas Israel itu muncul ketika proses negosiasi perdamaian antara AS dan Iran masih berlangsung alot dan belum menghasilkan kesepakatan.
“Rezim teror ini ditakdirkan untuk lenyap dari dunia, dan kami akan membantu mewujudkan hal ini,” ujarnya.
“Rezim ini tidak akan lagi mengancam kami dengan bom nuklir dan ribuan rudal balistik mematikan,” sambungnya.
Ketegangan diplomatik semakin meningkat setelah Iran memutuskan menghentikan komunikasi dan pertukaran dokumen perundingan melalui mediator AS. Keputusan tersebut diambil menyusul serangan Israel ke Lebanon yang dinilai Teheran melanggar upaya menuju gencatan senjata di kawasan.
“Mengingat kejahatan berkelanjutan rezim Zionis (Israel) di Lebanon dan mengingat bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat untuk gencatan senjata, dan gencatan senjata ini sekarang dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon, tim perunding Iran menangguhkan dialog dan pertukaran teks melalui mediator,” lapor Tasnim, sebagaimana dilansir Kompas, Rabu (03/06/2026).
Iran menegaskan penghentian seluruh operasi militer Israel di Jalur Gaza dan Lebanon menjadi syarat utama sebelum perundingan dapat dilanjutkan. Sikap tersebut dinilai memperumit upaya AS yang tengah berusaha membawa kedua pihak kembali ke jalur diplomasi.
Di sisi lain, hubungan Israel dan AS juga disebut mengalami tekanan setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan kecewa terhadap langkah Israel yang melancarkan serangan ke Beirut, Lebanon. Berdasarkan laporan yang beredar, Trump sempat melakukan komunikasi langsung dengan Netanyahu untuk membahas dampak serangan tersebut terhadap proses negosiasi dengan Iran.
Israel kemudian membatalkan rencana serangan udara lanjutan ke Lebanon setelah adanya permintaan dari Trump. Langkah itu dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat menggagalkan peluang tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran.
“Kamu benar-benar gila, kamu akan berada di penjara kalau bukan karena saya. Saya menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” kata Trump kepada Netanyahu.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada hubungan Israel-Iran, tetapi juga berpotensi memengaruhi jalannya diplomasi internasional yang sedang diupayakan untuk meredakan ketegangan kawasan. Sejumlah pihak kini menantikan apakah dialog antara AS dan Iran dapat kembali dilanjutkan setelah syarat yang diajukan Teheran terpenuhi. []
Redaksi05

