Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz

Bagikan:

TEHERAN – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran menuding Amerika Serikat (AS) melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan udara di Provinsi Hormozgan, Selasa (26/05/2026) dini hari. Insiden itu dikhawatirkan mengganggu jalur diplomasi yang tengah diupayakan kedua negara untuk menghentikan konflik dan memulihkan pelayaran internasional di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan udara AS sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung hampir tujuh pekan. Pemerintah Iran menilai aksi militer tersebut memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk.

Di sisi lain, Washington menyatakan operasi itu dilakukan untuk tujuan defensif. Militer AS mengklaim serangan ditujukan ke lokasi rudal dan kapal Iran yang diduga hendak memasang ranjau di sekitar Selat Hormuz, sebagaimana dilansir Kompas, Rabu (27/05/2026).

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi energi global karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia. Sejak konflik memanas, lalu lintas kapal di wilayah tersebut dilaporkan mengalami penurunan signifikan.

Meski demikian, Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menyebut sedikitnya 25 kapal tanker minyak dan kapal lain masih diizinkan melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Iran disebut menerapkan kebijakan selektif dengan memprioritaskan kapal dari negara-negara sekutu.

Di tengah situasi yang kembali memanas, upaya diplomasi sebenarnya masih berlangsung. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan proses perundingan membutuhkan waktu beberapa hari untuk mencapai kesepakatan penghentian konflik secara menyeluruh.

Sebelum serangan terjadi, kedua negara sempat menunjukkan sinyal positif terkait rancangan kesepakatan awal guna mengakhiri permusuhan dan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Dalam rancangan tersebut, negosiator diberi waktu 60 hari untuk menyelesaikan persoalan utama, termasuk program nuklir Iran.

Sumber dari pihak Iran menyebut tahap awal kesepakatan ditargetkan mampu menghentikan pertempuran di seluruh lini serta memulihkan arus pelayaran dalam 30 hari. Namun, pembahasan mengenai pencairan dana Iran yang dibekukan sebesar 24 miliar dollar AS menjadi hambatan utama dalam negosiasi.

Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dilaporkan baru kembali dari Qatar untuk membahas tuntutan pencairan dana tersebut. Kantor berita Fars menyebut isu dana beku menjadi poin krusial terakhir yang menghambat tercapainya kesepakatan.

Merespons serangan udara AS, IRGC menegaskan pihaknya memiliki hak untuk melakukan tindakan balasan. Mereka juga mengklaim berhasil menembak jatuh satu drone milik AS serta melepaskan tembakan ke arah satu drone lain dan sebuah jet tempur AS yang disebut memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk.

Situasi politik turut memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyerukan perlawanan global melalui pesan tertulis di saluran Telegram menjelang musim haji. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali mendorong negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, menandatangani Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.

Arab Saudi hingga kini tetap menolak ajakan tersebut sebelum ada kepastian mengenai pembentukan negara Palestina. Di sisi lain, Iran juga mendesak penghentian pertempuran di Lebanon yang terus berlangsung antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pihaknya akan terus meningkatkan operasi militer di Lebanon. Menurut dia, Israel kini bergerak dengan “pasukan besar di darat” untuk memperdalam operasi di wilayah tersebut. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang