BEIRUT – Ketegangan antara Israel dan Hizbullah kembali meningkat setelah militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Beirut, Lebanon, Kamis (28/05/2026). Serangan itu menjadi yang kedua kalinya menghantam ibu kota Lebanon sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada April 2026 lalu.
Sumber militer Lebanon menyebut serangan tersebut menargetkan sebuah apartemen di kawasan Choueifat, pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis pertahanan Hizbullah. Serangan terjadi di tengah upaya diplomasi antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
“Serangan Israel menargetkan sebuah apartemen di wilayah Choueifat,” ujar sumber militer Lebanon kepada AFP sebagaimana dilansir Harian Disway, Kamis (28/05/2026).
Militer Israel mengklaim operasi tersebut sebagai “serangan presisi di Beirut”, namun tidak menjelaskan target spesifik yang disasar.
Eskalasi konflik itu terjadi menjelang pertemuan delegasi militer Lebanon dan Israel di Pentagon pada Jumat (29/05/2026). Selain itu, kedua pihak juga dijadwalkan mengikuti pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) pada awal pekan depan. Pertemuan tersebut menjadi putaran keempat sejak perang terbaru Israel dan Hizbullah pecah pada 2 Maret 2026.
Sebelum menyerang Beirut, Israel lebih dahulu melancarkan rangkaian serangan udara intensif ke sejumlah wilayah Lebanon selatan. Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk tiga anak-anak.
Rekaman video dari Agence France-Presse Television (AFPTV) memperlihatkan asap tebal membubung dari kawasan selatan Beirut usai ledakan terjadi. Selain menghantam Beirut, serangan udara Israel juga dilaporkan menggempur kota pesisir Tyre dan Sidon sejak Kamis dini hari.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon menyatakan sedikitnya delapan serangan udara menghantam Tyre sejak Rabu malam. Serangan itu terjadi setelah Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga yang tinggal di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan balasan menggunakan roket dan pesawat tanpa awak (drone) yang diarahkan ke pasukan Israel di Lebanon selatan.
Sehari sebelum serangan ke Beirut, militer Israel menetapkan seluruh wilayah di selatan Sungai Zahrani sebagai “zona perang”. Kawasan tersebut berada sekitar 40 kilometer dari perbatasan Israel dan mencakup kota besar seperti Tyre serta Nabatieh.
Israel juga memerintahkan warga sipil di wilayah itu untuk segera mengungsi sebelum operasi militer terhadap Hizbullah diperluas. Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan akan meningkatkan intensitas serangan dan memperluas operasi darat di Lebanon.
Meski gencatan senjata resmi berlaku sejak 17 April 2026, bentrokan dan saling serang antara Israel dan Hizbullah terus terjadi. Kedua pihak saling menuding melakukan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata sebagai alasan melanjutkan operasi militer masing-masing. []
Redaksi05

