BEIRUT – Ketegangan di Lebanon kembali meningkat setelah militer Israel melancarkan serangan terhadap dua kendaraan di jalan raya utama penghubung Beirut dan Lebanon selatan, Rabu (13/05/2026), meski gencatan senjata dengan Hizbullah masih berlaku sejak April lalu.
Serangan terjadi di dekat wilayah Jiyeh, sekitar 20 kilometer di selatan Beirut. Hingga kini belum ada keterangan resmi terkait jumlah korban jiwa dalam insiden tersebut.
Seorang fotografer Agence France-Presse (AFP) di lokasi melihat satu kendaraan terbakar di tengah jalan raya, sementara petugas penyelamat mengevakuasi jenazah dari area serangan.
Serangan itu menjadi insiden terbaru di tengah berlanjutnya operasi udara Israel terhadap Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran. Sebelumnya, dua kendaraan lain juga menjadi sasaran serangan di kawasan yang sama pada Sabtu lalu.
Pemerintah Lebanon menyebut situasi keamanan terus memburuk sejak gencatan senjata diberlakukan pada 17 April 2026 untuk menghentikan konflik antara Israel dan Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 13 orang tewas akibat serangan Israel di sejumlah kota di Lebanon selatan pada Selasa. Secara keseluruhan, sedikitnya 380 orang dilaporkan meninggal dunia sejak gencatan senjata mulai berlaku.
Militer Israel pada hari yang sama juga mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di enam desa di wilayah Tyre sebagai antisipasi serangan lanjutan.
Gelombang kekerasan terbaru ini terjadi menjelang putaran baru negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel di Washington, Amerika Serikat (AS), Kamis (14/05/2026). Perundingan tersebut dimediasi oleh AS, namun Hizbullah menyatakan menolak proses negosiasi di negara tersebut.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sehari sebelumnya memperingatkan pihaknya akan mengubah medan perang menjadi “neraka” bagi Israel, sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu (13/05/2026).
Konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah terus memicu korban jiwa di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 2.800 orang tewas sejak eskalasi perang regional meluas pada awal Maret 2026, termasuk sekitar 200 anak-anak. []
Redaksi05

