Jumlah titik kebakaran di Kukar mulai menurun, tetapi BPBD masih memprioritaskan kawasan dekat permukiman, lahan gambut, dan jalur pipa minyak yang berisiko terdampak.
KUTAI KARTANEGARA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini diarahkan ke sejumlah kawasan yang dinilai masih memiliki risiko tinggi, terutama lokasi dekat permukiman, lahan gambut, dan jalur pipa minyak, meski jumlah titik yang benar-benar terbakar mulai menurun.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar Aspianur Sandi mengatakan pemantauan dalam dua hingga tiga hari terakhir menunjukkan jumlah hotspot tidak lagi mencapai 100 titik per hari. Sementara itu, titik yang benar-benar berkembang menjadi kebakaran atau fire spot tercatat kurang dari 10 kejadian.
“Alhamdulillah menurun. Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mendekati permukiman. Itu yang menjadi prioritas kita,” tegas Aspianur sebagaimana diberitakan Prokal, Senin, (21/09/2026).
Menurut Aspianur, perbedaan antara hotspot dan fire spot menjadi penting dalam membaca kondisi karhutla karena tidak semua titik panas berkembang menjadi kebakaran di lapangan.
“Dalam dua-tiga hari lumayan. Dari kemarin pantauan tidak sampai 100 per harinya. Itu kan hotspot, ya,” kata Aspianur.
Ia menjelaskan jumlah titik dengan tingkat panas tertentu masih dapat terpantau cukup banyak, tetapi tidak seluruhnya berubah menjadi titik kebakaran.
“Yang menjadi fire spot itu tidak sampai 10. Atau lebih dari yang misalnya medium sama high-nya, misalnya hari ini 30, yang terjadi fire spot atau yang menjadi titik terbakar itu tidak sampai 10 kejadian,” jelasnya.
Meski jumlah kebakaran menurun, BPBD Kukar tetap memberikan perhatian khusus terhadap kawasan yang berpotensi menimbulkan dampak lebih besar jika api berkembang. Salah satu fokus pemantauan berada di kawasan lahan gambut cagar alam Muara Kaman.
Selain Muara Kaman, Muara Jawa juga menjadi perhatian karena terdapat jalur pipa minyak Pertamina yang melintasi kawasan tersebut.
“Banyaknya seputar lahan. Gambut-gambut. Nah, yang masih kita pantau ini kan yang cagar alam di Muara Kaman, kan itu gambut. Sama itu Muara Jawa, kan itu jalur pipa minyaknya Pertamina,” papar Aspianur.
BPBD Kukar memastikan belum terdapat laporan mengenai titik api baru yang menjadi perkembangan signifikan. Sejumlah lokasi yang muncul dalam pemantauan disebut merupakan lokasi terbaru yang masih diawasi.
“Ini bukan titik api baru, ini lokasi terbaru. Kalau titik terbaru, enggak ada,” katanya.
Penanganan di Muara Badak sebelumnya telah dituntaskan. Namun, beberapa titik kembali muncul di Desa Badak Baru dan Tanjung Limau yang berbatasan dengan Marangkayu.
“Kalau kemarin kita sudah menuntaskan yang di Muara Badak. Alhamdulillah, meskipun sudah ada beberapa titik baru di Desa Badak Baru dan kemarin malam itu di Tanjung Limau, perbatasan dengan Marangkayu,” ujarnya.
Di tengah pemantauan titik rawan, upaya pengendalian karhutla juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaan OMC diperpanjang dari jadwal sebelumnya yang berakhir pada 19 September hingga 24 September.
“OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini kita diperpanjang sampai tanggal 24,” ungkapnya.
Namun, pelaksanaan OMC masih bergantung pada kondisi awan yang dapat dimanfaatkan untuk penyemaian. Aspianur mengatakan dalam dua hari terakhir potensi awan belum mendukung pelaksanaan operasi tersebut.
“Cuma potensi awan sekarang untuk dalam dua hari ini tidak ada. Besok mungkin baru ada OMC yang mudah-mudahan itu menjadi hujan,” ujarnya.
Pada pelaksanaan OMC sebelumnya selama empat hari, hujan justru terjadi di wilayah hulu Berau dan sebagian wilayah yang mendapatkan dampak hujan berada ke arah Pontianak.
“Kemarin OMC yang terjadi selama empat hari, malah terdapat ada di Berau wilayah hulu. Kebanyakan larinya ke Pontianak, dapat hujannya. OMC-nya dari Kaltim,” jelas Aspianur.
Selain faktor kondisi cuaca, Aspianur menyebut aktivitas masyarakat yang dilakukan tanpa kehati-hatian menjadi salah satu dugaan penyebab munculnya titik api. Karena itu, kewaspadaan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya kebakaran baru di tengah tren penurunan karhutla.
“Itu sebenarnya memang penyebabnya ya mungkin kegiatan-kegiatan masyarakat yang abai atau yang lalai,” pungkasnya. []
Redaksi08

