WASHINGTON DC – Ancaman Iran untuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan membuka titik tekanan baru di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia di tengah belum meredanya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), Israel, dan Hizbullah di Lebanon.
Teheran menegaskan akan mengambil langkah yang disebut sebagai “tindakan yang berarti” dengan membuka front baru apabila tekanan terhadap Iran dan sekutunya terus berlanjut. Sikap tersebut muncul saat upaya diplomatik yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir belum menghasilkan penghentian konflik maupun pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Pemerintah Iran juga dilaporkan menangguhkan dialog melalui para mediator sebagai respons atas meluasnya operasi militer Israel di Lebanon. Kantor Berita Tasnim menyebut keputusan itu diambil setelah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (02/06/2026).
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa pembahasan mengenai program nuklir belum menjadi prioritas negaranya.
“Tidak ada negosiasi yang berlangsung mengenai rincian isu nuklir. Pada tahap ini, prioritas kami adalah mengakhiri perang.”
Ia menambahkan, “Kami bersikeras bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan syarat penting bagi setiap kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang.”
Sementara itu, Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai blokade angkatan laut AS dan eskalasi konflik di Lebanon sebagai “bukti jelas ketidakpatuhan Amerika Serikat terhadap gencatan senjata”.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, badan intelijen Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa “melintasi garis merah di Lebanon dan Gaza” berarti “perang langsung”. Lembaga tersebut juga menegaskan komitmen Iran mempertahankan apa yang disebut sebagai “persamaan Selat Hormuz”.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan komunikasi dengan Iran masih berlangsung. Melalui media sosial, Trump menulis, “Pembicaraan terus berlanjut, dengan kecepatan yang tinggi, dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump, Senin (01/06/2026).
Namun, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan masih meningkat. Israel memperluas operasi daratnya di Lebanon, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukannya akan terus bergerak lebih jauh dan mengancam serangan ke wilayah pinggiran selatan Beirut.
Militer Israel bahkan meminta warga di kawasan Dahiyeh untuk mengungsi demi keselamatan. Foto-foto yang beredar menunjukkan kemacetan panjang saat penduduk berusaha meninggalkan wilayah tersebut.
Menjelang rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Lebanon, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan atas perkembangan situasi keamanan.
“Kami sangat khawatir dengan eskalasi aktivitas militer di seluruh Lebanon selatan dan wilayah lainnya,” katanya.
Ancaman Iran tidak hanya berkaitan dengan Selat Hormuz. Tasnim melaporkan Teheran juga berpotensi mengaktifkan tekanan di Selat Bab al-Mandab yang menjadi pintu masuk Laut Merah. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting pengiriman energi global, termasuk ekspor minyak Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu.
Di tengah meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran internasional, badan keamanan maritim Inggris United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan terjadinya ledakan besar pada sebuah kapal kargo di lepas pantai Irak setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya.
Sementara itu, militer Israel mengumumkan dua tentaranya kembali tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan. Dengan tambahan tersebut, jumlah personel militer Israel yang tewas sejak awal Maret mencapai 27 orang. Konflik yang terus meluas membuat prospek perdamaian di kawasan masih menghadapi tantangan besar, sementara dunia menaruh perhatian pada keamanan jalur energi internasional dan stabilitas Timur Tengah. []
Redaksi05

