Konflik Rusia-Ukraina Kian Meluas, Kapal Kargo Asing Jadi Korban

Konflik Rusia-Ukraina Kian Meluas, Kapal Kargo Asing Jadi Korban

Bagikan:

MOSKOW – Jalur pelayaran sipil di Laut Hitam kembali terdampak konflik Rusia-Ukraina setelah serangan drone yang dilaporkan menargetkan tiga kapal asing dan menyebabkan seorang pelaut asal Mesir tewas. Insiden tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam perang yang memasuki hari ke-1.581 pada Selasa (23/06/2026).

Menurut Angkatan Laut Ukraina, serangan terjadi pada malam 22 Juni 2026 terhadap tiga kapal sipil berbendera asing yang sedang beroperasi di Laut Hitam. Kapal berbendera Panama milik perusahaan Turki, Victress, dilaporkan mengalami kerusakan paling parah setelah bagian anjungannya terbakar akibat serangan drone.

Wakil Perdana Menteri (WPM) Ukraina, Oleksii Kuleba, menyatakan seorang juru masak berkewarganegaraan Mesir berusia 58 tahun meninggal dunia dalam insiden tersebut. Sementara itu, delapan awak kapal lainnya yang berasal dari Turki dan India berhasil dievakuasi.

Selain Victress, dua kapal lain berbendera Belize dan Palau juga dilaporkan terdampak serangan. Namun, kerusakan yang dialami relatif ringan sehingga kedua kapal masih dapat melanjutkan pelayaran.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menilai peristiwa itu menunjukkan ancaman yang masih membayangi aktivitas sipil di Laut Hitam. Hingga berita ini ditulis, Rusia belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.

Peristiwa di Laut Hitam terjadi di tengah rangkaian serangan yang terus berlangsung di kedua belah pihak. Militer Ukraina mengklaim telah menyerang fasilitas produksi komponen elektronik rudal di wilayah Voronezh, Rusia. Menurut laporan otoritas setempat, sedikitnya lima orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Staf Umum Ukraina menyebut fasilitas itu memiliki peran penting dalam produksi sistem rudal Rusia, termasuk Iskander. Serangan disebut dilakukan menggunakan rudal jelajah presisi yang diluncurkan dari udara.

Di wilayah Moskow, pusat komunikasi satelit Dubna juga dilaporkan menjadi sasaran serangan Ukraina. Media pemerintah Rusia melaporkan adanya serangan drone berskala besar, sementara pihak Ukraina menyebut operasi tersebut merupakan bagian dari serangan jarak jauh terhadap infrastruktur strategis Rusia.

Sementara itu, kondisi keamanan di sejumlah wilayah Ukraina masih memburuk. Pemerintah Ukraina menetapkan status siaga serangan udara di Kyiv pada dini hari. Serangan yang terjadi di Sumy dilaporkan menewaskan tiga anggota keluarga, termasuk seorang anak laki-laki berusia 13 tahun.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengecam serangan tersebut dan menyatakan rumah yang menjadi sasaran bukan merupakan fasilitas militer. Korban sipil juga kembali berjatuhan di Zaporizhzhia setelah serangan drone yang dilaporkan menewaskan seorang perempuan dan melukai tiga warga lainnya, termasuk seorang anak berusia 11 tahun.

Di tengah meningkatnya intensitas konflik, Utusan Ukraina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Andrii Melnyk, memperingatkan bahwa Kyiv dapat meninjau kembali tawaran gencatan senjata apabila Dewan Keamanan PBB tidak segera mengambil langkah konkret untuk mendorong penghentian perang tanpa syarat.

Melnyk menegaskan Ukraina masih membuka peluang dialog langsung dengan Rusia, namun mengingatkan bahwa “kesabaran kami tidak tak terbatas” dalam proses diplomasi. Pernyataan itu disampaikan ketika serangan lintas wilayah dan dampaknya terhadap warga sipil maupun aktivitas internasional terus meningkat, sebagaimana diberitakan Tribunnews, Selasa (23/06/2026). []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang