Bentrokan berulang antara warga Nunu dan Anoa di kawasan Jembatan Lalove, Palu, menyebabkan satu orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya terluka sehingga 480 personel gabungan dikerahkan untuk mengantisipasi konflik susulan.
SULAWESI TENGAH – Pengerahan 480 personel gabungan dari kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi langkah pengamanan untuk mencegah bentrokan susulan antara warga Kelurahan Nunu dan Tatura Utara (Anoa), Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Bentrokan yang kembali pecah di kawasan Jembatan Lalove, Kecamatan Tatanga, Rabu (28/10/2026) sekitar pukul 17.00 Wita, menyebabkan satu warga meninggal dunia dan sejumlah orang lainnya terluka.
Kapolresta Palu, Hari Rosena, mengatakan aparat menerima informasi mengenai seorang warga yang meninggal dunia. Namun, penyebab kematian korban masih menunggu keterangan dari Rumah Sakit Budi Agung Palu.
“Dari informasi yang diterima ada satu meninggal dunia. Tetapi masih menunggu laporan dari rumah sakit Budi Agung Palu, korban tersebut terkena apa,” ujar Hari kepada wartawan di lokasi bentrokan, Rabu malam.
Menurut Hari, bentrokan melibatkan massa yang membawa senjata tajam (sajam) dan senapan angin yang telah dimodifikasi. Sejumlah warga dari kelompok Anoa dilaporkan mengalami luka, antara lain pada bagian kaki.
“Ya, jadi Anoa sudah mengarah ke sana dengan bawa sajam, ada bawa apa tadi senapan angin yang dimodifikasi itu. Nah, beberapa memang dari Anoa yang terkena, ada yang kena kakinya dan sebagainya,” terangnya.
Hari menjelaskan, situasi di lokasi sempat sulit dikendalikan karena jumlah warga yang terlibat bentrokan lebih banyak dibandingkan personel kepolisian yang berada di lapangan. Kondisi tersebut membuat petugas harus menghadapi keterbatasan dalam mengendalikan massa.
“Kita mundur sudah tidak bisa, karena jumlah kita kalah. Akhirnya ada satu meninggal, kemudian beberapa luka di kaki dengan lengan, kalau enggak salah,” beber Hari.
Untuk memperkuat pengamanan, sekitar 480 personel gabungan dikerahkan ke sejumlah titik yang dinilai rawan. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 280 personel dari Kepolisian Daerah (Polda) Sulteng, sekitar 100 personel dari Kepolisian Resor Kota (Polresta) Palu, serta sekitar 100 personel TNI.
“Kalau dari kepolisian, dari Polda itu sekitar 280, dari Polres itu sekitar 100-an. Kemudian tadi dibackup rekan-rekan kita dari TNI ini sekitar 100,” terangnya.
Bentrokan tersebut bukan kali pertama terjadi pada hari yang sama. Sebelumnya, aksi saling serang antara warga Nunu dan Anoa dilaporkan berlangsung pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.00 Wita. Menindaklanjuti laporan itu, personel Polresta Palu bersama Kepolisian Sektor (Polsek) Palu Selatan mendatangi lokasi untuk menangani situasi.
“Ia benar terjadi saling serang, dugaan awal masih yang sama warga Nunu dan Anoa,” ujar Kapolsek Palu Selatan, Muhammad Kasim, kepada Detikcom, Rabu (28/10/2026).
Rangkaian bentrokan yang terjadi dalam rentang waktu beberapa jam tersebut menunjukkan perlunya pengamanan berkelanjutan di kawasan rawan. Aparat gabungan disiagakan untuk mencegah konflik kembali meluas, sementara penanganan korban dan penelusuran penyebab bentrokan menjadi bagian penting dari tindak lanjut peristiwa tersebut. []
Redaksi 01

