JAKARTA – Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook, Nadiem Makarim, mengungkapkan bahwa keterbatasan pengalaman di bidang pemerintahan dan pendidikan menjadi alasan utama dirinya merekrut sejumlah profesional muda sebagai penasihat serta staf khusus saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada 2019.
Pernyataan tersebut disampaikan Nadiem saat membacakan duplik pribadi dalam sidang di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Selasa (23/06/2026). Menurutnya, tim yang dibentuk berfungsi sebagai penghubung antara latar belakangnya di sektor swasta dengan lingkungan birokrasi pemerintahan yang baru dimasukinya.
“Karena kecemasan ini, saya merekrut orang-orang yang bukan hanya berpengalaman di bidang pemerintahan dan pendidikan, tetapi juga mengerti budaya dan gaya kepemimpinan saya yang dibentuk di sektor swasta. Saya membutuhkan jembatan antara saya dan dunia pemerintah,” tuturnya.
Nadiem menjelaskan bahwa saat ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Mendikbud pada 2019, dirinya menyadari posisi tersebut membawa tantangan besar. Selain belum pernah berkecimpung secara formal di dunia pendidikan maupun politik, ia juga menjadi sosok dengan latar belakang berbeda dibanding para menteri pendidikan sebelumnya.
“Saya belum pernah memasuki dunia politik maupun dunia pendidikan secara formal. Dengan mengangkat saya sebagai Mendikbud, Bapak Presiden Joko Widodo mengambil keputusan yang memutus tradisi politik puluhan tahun,” kata Nadiem, sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (23/06/2026).
Dalam keterangannya, Nadiem mengaku sempat merasa khawatir menghadapi kompleksitas birokrasi pemerintahan. Ia bahkan cemas dianggap tidak memiliki kompetensi yang cukup oleh jajaran di kementerian yang dipimpinnya.
“Dengan jujur saya harus akui, saat itu saya khawatir jika saya dijadikan menteri, saya akan dianggap kurang kompeten oleh para bawahan saya,” jelasnya.
“Saya khawatir, saya tidak akan mendapatkan informasi yang utuh dari bawahan saya. Dan saya khawatir saya tidak akan berdaya menghadapi kompleksitas birokrasi,” lanjutnya.
Menurut Nadiem, kondisi tersebut mendorongnya mencari individu yang mampu memberikan perspektif berbeda sekaligus membantu proses adaptasi di lingkungan pemerintahan. Ia menegaskan tim yang direkrut berasal dari kalangan profesional yang dinilai memiliki integritas dan komitmen terhadap kemajuan pendidikan.
“Karena kesadaran akan keterbatasan itulah saya merekrut orang-orang yang tidak hanya berpengalaman di bidang pemerintahan dan pendidikan tetapi juga memahami budaya dan gaya kerja dari sektor swasta. Inilah alasan saya menghadirkan sejumlah pemimpin muda sebagai penasihat dan staf khusus,” lanjutnya.
Nadiem menyebut sejumlah nama yang bergabung dalam tim tersebut antara lain Jurist Tan, Hamid Muhammad, Fiona Handayani, Pramoda Dei Sudarmo, Muhamad Heikal, dan Najelaa Shihab. Ia menilai mereka memiliki kapasitas untuk memberikan masukan secara independen demi mendukung agenda pendidikan nasional.
“Saya mencari orang-orang yang dapat mengajari saya, yang berani berbeda pendapat dengan saya, dan yang senantiasa mendahulukan misi pendidikan di atas atas kepentingan pribadi mana pun, termasuk kepentingan saya sendiri,” paparnya.
Persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook masih berlanjut dengan agenda pemeriksaan dan penyampaian argumentasi dari para pihak. Keterangan yang disampaikan Nadiem menjadi bagian dari pembelaan dalam proses hukum yang sedang berjalan. []
Redaksi05

