Naim Qassem Tegaskan Israel Harus Tarik Pasukan dari Lebanon

Naim Qassem Tegaskan Israel Harus Tarik Pasukan dari Lebanon

Bagikan:

BEIRUT – Implementasi penuh perjanjian gencatan senjata menjadi sorotan setelah Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa Israel harus menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon tanpa pengecualian. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah masih munculnya insiden keamanan yang memicu tuduhan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.

Dalam pertemuan yang digelar di pinggiran selatan Beirut pada Selasa (23/06/2026), Qassem menyatakan tidak ada ruang bagi Israel untuk mempertahankan kehadiran militernya di wilayah Lebanon dengan alasan apa pun.

“Tidak ada pilihan lain bagi Israel selain penarikan penuh dari seluruh wilayah Lebanon tanpa mempertahankan satu inci pun wilayah dengan dalih apa pun,” kata Qassem, sebagaimana diberitakan Antara, Selasa (23/06/2026).

Qassem menilai Lebanon dan Hizbullah kini memasuki fase baru setelah berbagai upaya untuk melemahkan kelompok tersebut dinilai tidak berhasil. Menurut laporan stasiun televisi Al-Manar, ia menyebut strategi yang ditujukan untuk menghapus pengaruh Hizbullah dari berbagai sektor tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

Ia juga menegaskan bahwa perlawanan tetap dianggap sebagai faktor penting dalam menjaga kemerdekaan dan kedaulatan Lebanon. Selain itu, Qassem mengkritik Amerika Serikat (AS) serta sejumlah pihak internasional yang dinilai tidak memenuhi komitmen dalam pelaksanaan perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada 2024.

Dalam kesempatan tersebut, Qassem turut menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Iran selama konflik berlangsung. Menurutnya, kerja sama antara Iran dan Hizbullah memberikan kontribusi terhadap hasil yang dicapai dalam konfrontasi tersebut.

Terkait situasi pascagencatan senjata, Qassem mengajukan lima poin utama yang dinilai perlu segera diwujudkan, yakni penghentian seluruh serangan Israel melalui jalur udara, darat, dan laut; penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon; pembebasan tahanan; pemulangan warga ke kawasan perbatasan; serta percepatan proses rekonstruksi.

Ia juga menegaskan Hizbullah akan terus berkoordinasi dengan Tentara Lebanon di wilayah selatan dan menolak keterlibatan Israel dalam urusan domestik maupun pengaturan keamanan Lebanon di masa mendatang.

Gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel mulai berlaku pada 20 Juni 2026. Meski secara umum masih bertahan, situasi keamanan tetap menjadi perhatian setelah dua orang dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di Lebanon selatan pada Selasa (23/06/2026), yang kemudian memicu tuduhan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang