Serangan pesawat nirawak di pasar ternak Kota Nyala menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai 47 lainnya, sementara tuduhan terhadap militer Sudan belum terverifikasi secara independen.
Sumber medis di Rumah Sakit Nyala menyebutkan seluruh korban luka telah mendapatkan perawatan. Namun, pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut belum dapat dipastikan.
“Serangan drone terhadap pasar ternak di kota ini menewaskan 30 orang dan melukai 47 lainnya, yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit,” kata sumber medis tersebut, sebagaimana diberitakan Kompas, Sabtu (17/10/2026).
Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan kepada media. Ia juga tidak mengidentifikasi pihak yang melancarkan serangan.
Pasar ternak tersebut merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi warga Nyala. Ketika serangan terjadi pada Jumat pagi, pedagang dan pembeli tengah melakukan transaksi, sementara sejumlah kios di pinggir jalan menjajakan makanan, termasuk daging panggang yang populer sebagai menu sarapan di Darfur.
Kelompok RSF yang menguasai Nyala menuduh militer Sudan berada di balik serangan tersebut. RSF menyatakan serangan menggunakan pesawat nirawak buatan Turki dan menyasar kawasan sipil yang padat penduduk.
Dalam pernyataannya, RSF mengklaim 17 perempuan dan lima anak termasuk di antara korban tewas. Namun, rincian tersebut masih berupa laporan awal kelompok itu dan belum dikonfirmasi secara independen.
Di sisi lain, seorang sumber militer Sudan mengakui bahwa pasukan pemerintah meningkatkan serangan terhadap posisi RSF di Nyala pada Jumat. Sumber tersebut juga menyebut militer menyerang Bandara Nyala sekitar 48 jam sebelumnya.
Menurut sumber militer itu, operasi yang dilakukan pasukan pemerintah ditujukan terhadap sasaran militer. Meski demikian, ia tidak secara langsung mengakui bahwa militer Sudan bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak yang menghantam pasar ternak.
Nyala merupakan kota terbesar kedua di Sudan sekaligus ibu kota Darfur Selatan. Kota ini juga menjadi pusat pemerintahan tandingan yang dibentuk RSF pada 2025. Penguasaan wilayah tersebut menjadikan Nyala salah satu titik penting dalam perebutan kendali atas Darfur, kawasan di bagian barat Sudan.
Penggunaan pesawat nirawak dalam konflik Sudan semakin meningkat sejak perang antara militer pemerintah dan RSF pecah pada April 2023. Kedua pihak memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyerang sasaran yang berada jauh dari garis depan, sehingga ancaman terhadap penduduk sipil meluas ke berbagai wilayah.
Militer Sudan terus berupaya menekan kendali RSF atas Darfur. Sementara itu, RSF sebelumnya berhasil menguasai sebagian besar wilayah tersebut setelah merebut El-Fasher pada 2025. Kota itu merupakan pusat perkotaan besar terakhir di Darfur yang sebelumnya masih berada di bawah kendali militer Sudan.
Operasi perebutan El-Fasher menuai kecaman internasional. Para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai serangan di kota tersebut menunjukkan ciri-ciri tindakan genosida.
Dampak perang Sudan juga terlihat dari besarnya jumlah korban jiwa dan pengungsi. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang serta menyebabkan lebih dari 11 juta penduduk mengungsi. PBB menggambarkan situasi di Sudan sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Data PBB menunjukkan lebih dari 1.100 orang tewas akibat serangan pesawat nirawak di berbagai wilayah Sudan selama enam bulan pertama 2026. Angka tersebut mencerminkan besarnya risiko yang dihadapi masyarakat sipil seiring meningkatnya penggunaan senjata tersebut dalam pertempuran.
Korban sipil juga dilaporkan berjatuhan di Kordofan, wilayah strategis yang menghubungkan Darfur dengan kawasan tengah dan timur Sudan. Pada Kamis (15/10/2026), sebuah pesawat Antonov milik militer Sudan dilaporkan menyerang sebuah rumah di Desa Abu Zaeima, Kordofan Utara.
Kelompok pembela hak asasi manusia Emergency Lawyers melaporkan serangan tersebut menewaskan lima anak dari satu keluarga dan melukai ibu mereka. Desa Abu Zaeima berada di wilayah yang dikuasai RSF.
Organisasi tersebut juga melaporkan serangan lain di Kordofan yang mengenai tempat penampungan pengungsi dan asrama mahasiswa. Sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan itu.
Rangkaian serangan di Nyala dan Kordofan memperlihatkan besarnya ancaman terhadap warga sipil di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Penyelidikan independen untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasar ternak Nyala menjadi penting guna mengungkap fakta kejadian dan mendukung upaya perlindungan penduduk sipil sesuai hukum humaniter internasional. []
Redaksi 03

