Perang dengan AS-Israel Ubah Masa Depan Selat Hormuz

Perang dengan AS-Israel Ubah Masa Depan Selat Hormuz

Bagikan:

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan perang dengan AS dan Israel telah mengubah geopolitik Timur Tengah serta membuka kemungkinan perubahan dalam pengelolaan Selat Hormuz yang strategis bagi perdagangan energi dunia.

ISTANBUL – Masa depan Selat Hormuz berpotensi menjadi salah satu isu utama dalam pembentukan tatanan keamanan baru di Timur Tengah setelah perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, konflik tersebut telah mengubah lanskap geopolitik kawasan dan akan berdampak pada pola pelayaran serta mekanisme pengelolaan jalur laut strategis itu.

Araghchi menyampaikan pandangan tersebut dalam pidatonya di Kementerian Luar Negeri Iran. Sebagaimana dilansir Press TV, Minggu, (25/10/2026), ia menilai perubahan akibat perang harus diakui sebagai realitas baru yang akan memengaruhi hubungan antarnegara di kawasan.

“Perang saat ini telah mengubah segalanya. Kita harus mengakui bahwa realitas-realitas baru telah muncul,” kata Araghchi.

Pernyataan itu menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik penting dalam dinamika pascaperang. Jalur perairan tersebut merupakan lintasan strategis bagi perdagangan energi dunia sehingga setiap perubahan aturan pelayaran berpotensi memengaruhi kepentingan banyak negara.

Araghchi secara khusus menegaskan bahwa sistem pelayaran dan pengelolaan selat itu tidak akan kembali seperti sebelum konflik. Sikap tersebut mengisyaratkan kemungkinan perubahan kebijakan Iran terhadap salah satu jalur laut paling penting bagi distribusi energi internasional.

“Jalur pelayaran melalui Selat Hormuz tidak akan lagi sama seperti sebelumnya, begitu pula cara pengelolaan selat tersebut tidak akan sama seperti di masa lalu,” ujarnya.

Di tengah perbedaan kepentingan dengan Washington, Iran juga menyatakan terbuka terhadap upaya membangun sistem keamanan yang diprakarsai negara-negara di Timur Tengah. Teheran menilai inisiatif dari kawasan sendiri dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi perubahan situasi keamanan setelah perang.

Araghchi menyatakan Iran akan menyambut baik “setiap rencana keamanan yang berasal dari kawasan itu sendiri.”

Namun, perbedaan pandangan Iran dan AS mengenai pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi persoalan utama. Teheran bersikeras mempertahankan kewenangannya dalam mengatur lalu lintas pelayaran, sedangkan Washington menginginkan jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional tanpa pembatasan.

Perselisihan itu memperlihatkan bahwa persoalan Selat Hormuz tidak hanya menyangkut kewenangan atas jalur laut, tetapi juga berkaitan dengan keamanan regional dan kelancaran perdagangan energi global. Negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut berpotensi terdampak apabila terjadi perubahan signifikan dalam mekanisme pelayaran.

Sebelumnya, Iran dan AS sempat menandatangani kesepakatan sementara pada Juni untuk meredakan konflik. Namun, upaya diplomatik kedua negara kembali menemui jalan buntu ketika ketegangan terus meningkat.

Pernyataan Araghchi menunjukkan bahwa berakhirnya perang belum tentu memulihkan kondisi Timur Tengah seperti sebelum konflik. Masa depan Selat Hormuz akan bergantung pada perkembangan hubungan Iran dan AS, arah diplomasi regional, serta kesepakatan mengenai keamanan dan kebebasan pelayaran internasional. []

Redaksi1

Bagikan:
Internasional Perang