MOSKOW – Rusia mengonfirmasi peluncuran rudal balistik hipersonik Oreshnik dalam serangan besar-besaran ke Ukraina pada Minggu (24/05/2026) dini hari. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas dugaan serangan Ukraina terhadap wilayah dan infrastruktur sipil Rusia.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan operasi militer itu melibatkan sejumlah jenis rudal, termasuk Oreshnik yang berkecepatan hingga Mach 10 atau sekitar 12.300 kilometer per jam. Rudal jenis intermediate-range ballistic missile (IRBM) itu diketahui mampu membawa hulu ledak nuklir dan pertama kali digunakan Rusia dalam perang pada 2024.
“Sebagai tanggapan atas serangan teroris Ukraina terhadap infrastruktur sipil di wilayah Rusia, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia melakukan serangan besar-besaran menggunakan rudal balistik Oreshnik, rudal balistik Iskander yang diluncurkan dari udara, rudal balistik hipersonik Kinzhal yang diluncurkan dari udara, dan rudal jelajah Tsirkon,” kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan, sebagaimana diberitakan Reuters, Minggu (24/05/2026).
Serangan udara tersebut dilaporkan mengguncang sejumlah wilayah Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv. Ledakan keras terdengar di beberapa titik ketika Rusia meluncurkan ratusan drone dan puluhan rudal ke wilayah negara itu.
Jurnalis Agence France-Presse (AFP) melaporkan serangan Rusia melibatkan sekitar 600 drone dan 90 misil. Ukraina menyebut serangan tersebut menyebabkan sedikitnya empat orang tewas dan sejumlah wilayah mengalami kerusakan akibat hantaman rudal dan drone.
Pemerintah Ukraina mengklaim berhasil mencegat sebagian besar serangan udara Rusia, yakni 549 drone dan 55 misil. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga menyebut Rusia menggunakan rudal hipersonik Oreshnik yang memiliki kemampuan membawa senjata nuklir.
Sebelum serangan itu terjadi, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan akan membalas aksi Ukraina yang menyerang wilayah pendudukan Rusia di bagian timur Ukraina. Moskow menuduh serangan Ukraina sebelumnya menargetkan kawasan kampus di Lugansk hingga menewaskan 18 orang dan melukai 42 lainnya.
Namun, Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak menyerang warga sipil. Kyiv justru mengklaim berhasil menghantam stasiun drone milik Rusia dalam operasi militernya.
Konflik Rusia-Ukraina yang terus memanas memicu kekhawatiran internasional terkait eskalasi penggunaan rudal hipersonik dan potensi ancaman senjata nuklir di kawasan Eropa Timur. []
Redaksi05

