SPIEF-2026: Putin Peringatkan Era Digital, BRICS Kuasai 49% PDB Global

SPIEF-2026: Putin Peringatkan Era Digital, BRICS Kuasai 49% PDB Global

Bagikan:

SPIEF 2026 mencatat 1.084 perjanjian senilai lebih dari 6,6 triliun rubel, sementara Indonesia menjajaki kerja sama maritim dengan Rusia.

SAINT PETERSBURG – Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg atau Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 resmi berakhir, Sabtu (06/06/2026), dengan mencatat 1.084 perjanjian senilai lebih dari 6,6 triliun rubel atau sekitar Rp115 triliun. Forum yang berlangsung di Expoforum, Saint Petersburg, Rusia, sejak 3 Juni 2026 itu diikuti 24.500 peserta dari 142 negara.

SPIEF 2026 mengangkat tema “Dialog Pragmatis  Jalan Menuju Masa Depan yang Stabil”. Arab Saudi kembali menjadi mitra utama forum tahun ini dengan mengirimkan sekitar 200 delegasi, termasuk perwakilan Saudi Aramco, serta membuka paviliun nasional seluas 400 meter persegi.

Capaian perjanjian pada SPIEF 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 1.060 perjanjian senilai 6,3 triliun rubel. Salah satu proyek yang paling menyita perhatian adalah rencana pembangunan terowongan bawah laut melintasi Selat Bering yang akan menghubungkan Rusia dan Amerika Serikat.

Proyek yang dijuluki “Terowongan Putin-Trump” itu ditargetkan merampungkan desain teknis pada akhir 2026. Rusia juga berharap China bergabung dalam proyek tersebut karena dinilai dapat mengubah peta logistik antara Eurasia dan Amerika Utara secara fundamental.

Selain proyek tersebut, sejumlah kesepakatan juga diarahkan untuk pembangunan wilayah Donbass. VTB bersama perusahaan konstruksi Sadovoye Kolco membuka jalur kredit lebih dari 12 miliar rubel untuk pembangunan perumahan di Mariupol, Donetsk, hingga akhir 2029.

Sementara itu, IC Group dan VTB menyepakati pembangunan pusat data pertama di Donetsk senilai 20 miliar rubel. Kesepakatan ini dinilai menegaskan Donbass tetap menjadi wilayah yang menarik bagi investasi pascarekonstruksi.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato selama 45 menit dalam forum tersebut. Ia menyoroti transformasi struktural dunia serta pergeseran pusat kekuatan ekonomi dari Barat ke negara-negara berkembang.

Dalam pidatonya, Putin menyebut 49 persen pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global dalam lima tahun terakhir berasal dari negara-negara Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Sementara itu, negara-negara Group of Seven (G7) disebut hanya menyumbang 18 persen.

Putin juga menanggapi surat dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang dikirim menjelang forum. Putin menyebut surat tersebut “mengandung unsur kekasaran” dan mencurigai Kiev sengaja menunda penyelesaian konflik dengan menolak figur Amerika Serikat sebagai penjamin kesepakatan.

“Apakah ini cara menciptakan kondisi untuk pertemuan pribadi, atau justru menciptakan suasana di mana pertemuan pribadi tidak mungkin dilakukan? Saya pikir ini adalah opsi kedua,” ujar Putin.

Kepada para pejuang Rusia di garis depan, Putin juga menyampaikan pesan singkat. “Bekerja, saudara-saudara!” ucapnya.

Di bidang teknologi, Putin mengidentifikasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sistem otonom, dan platform digital sebagai tiga teknologi kunci masa depan. Ia memperingatkan bahwa negara-negara yang tidak membangun solusi digital sendiri berisiko menjadi “periferi digital” yang bergantung pada negara lain.

Dari Indonesia, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono turut hadir dalam forum tersebut. Kehadiran Agus disebut mendapat sambutan dari panitia penyelenggara dan sejumlah pelaku usaha Rusia.

Dalam kunjungannya ke Rusia, Agus memfokuskan pembahasan pada penguatan kerja sama bilateral di bidang maritim untuk menunjang konektivitas Indonesia. Delegasi Indonesia menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan Rusia di sektor pembangunan pelabuhan, pengembangan tol laut, serta peningkatan kapasitas armada logistik maritim.

Rusia dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola jalur pelayaran di wilayah ekstrem, termasuk pengembangan Rute Laut Utara atau Northern Sea Route. Pengalaman itu diharapkan dapat menjadi referensi untuk mempercepat konektivitas laut di Indonesia, terutama di wilayah timur dan daerah terluar.

SPIEF 2026 juga mencatat perubahan dalam mekanisme penyelenggaraan. Untuk pertama kalinya sejak 2021, tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dihapuskan bagi sebagian besar peserta, kecuali mereka yang menghadiri sidang pleno.

Sementara itu, pelaku bisnis Barat tetap hadir dalam jumlah terbatas. Sebagian dari mereka memilih menggelar pertemuan tertutup karena mempertimbangkan risiko geopolitik dan sanksi. Meski demikian, minat kerja sama disebut tetap terlihat dalam forum tersebut.

Sejumlah pengamat menilai pidato Putin pada SPIEF 2026 lebih bersifat strategis dibanding taktis. Investor disebut masih menunggu inisiatif konkret di bidang geopolitik, kebijakan pajak, maupun suku bunga, tetapi forum tersebut tetap dinilai berhasil menegaskan posisi SPIEF sebagai salah satu platform bisnis terbesar di Eurasia. []

Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Agnes Wiguna

Bagikan:
Internasional