GEORGIA – Upaya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi sorotan setelah Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkapkan Presiden Donald Trump tengah mendorong tercapainya kesepakatan besar dengan Teheran, bukan sekadar perjanjian terbatas, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh dan telah berlangsung hampir sepekan.
Pernyataan itu disampaikan Vance dalam sebuah acara di Negara Bagian Georgia, Selasa (14/04/2026), saat proses negosiasi antara Washington dan Teheran masih terus berlangsung. Menurutnya, pemerintahan Trump menginginkan kesepakatan komprehensif yang tidak hanya menghentikan konflik, tetapi juga mengubah posisi Iran di panggung internasional.
“Apa yang menarik adalah kita memiliki gencatan senjata yang sedang berlangsung. Saya pikir sekarang sudah berjalan enam atau tujuh hari. Dan gencatan senjata itu masih bertahan,” ujar Vance, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Rabu, (15/04/2026).
Ia menegaskan bahwa Presiden Trump tidak menginginkan kesepakatan jangka pendek yang bersifat parsial. Sebaliknya, Gedung Putih menawarkan normalisasi hubungan ekonomi apabila Iran bersedia memenuhi syarat utama yang diajukan AS.
“Ia ingin membuat kesepakatan besar. Pada dasarnya yang ditawarkan kepada Iran sangat sederhana… jika Anda bersedia bertindak seperti negara normal, kami siap memperlakukan Anda secara ekonomi seperti negara normal,” katanya.
Namun demikian, Vance mengakui bahwa kesepakatan final belum berhasil dicapai. Salah satu titik krusial dalam perundingan adalah tuntutan Washington agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Kesepakatan belum tercapai karena presiden benar-benar menginginkan perjanjian di mana Iran tidak memiliki senjata nuklir,” tambahnya.
Sebelumnya, pembicaraan langsung antara delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung maraton selama sekitar 21 jam. Meski demikian, kedua pihak disebut masih membuka peluang untuk melanjutkan dialog dalam beberapa hari ke depan.
Negosiasi tersebut menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk menjaga gencatan senjata yang tercapai setelah konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026. Konflik itu telah menewaskan lebih dari 3.300 orang dan memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Vance juga mengakui tingkat ketidakpercayaan antara kedua negara masih sangat tinggi, sehingga proses perundingan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
“Anda tidak bisa menyelesaikan masalah ini dalam semalam. Tapi saya pikir pihak yang kami hadapi ingin mencapai kesepakatan,” ujarnya.
Pemerintah AS menegaskan akan tetap melanjutkan negosiasi dengan itikad baik, seraya berharap kesepakatan yang tercapai nantinya dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas global dan keamanan kawasan. []
Redaksi05

