72 Penambang Sipil Tewas, Dugaan Serangan Mesir Picu Ketegangan Perbatasan

72 Penambang Sipil Tewas, Dugaan Serangan Mesir Picu Ketegangan Perbatasan

Bagikan:

Sedikitnya 72 penambang sipil dilaporkan tewas dalam serangan udara di kawasan tambang emas dekat perbatasan Sudan–Mesir, sementara tuduhan terhadap militer Mesir belum terverifikasi secara independen.

SUDAN – Dugaan serangan udara di kawasan tambang emas dekat perbatasan Sudan dan Mesir menewaskan sedikitnya 72 penambang sipil pada Sabtu (10/10/2026). Insiden yang dituduhkan kepada militer Mesir oleh kelompok hak asasi manusia (HAM) Sudan itu memicu sorotan terhadap keselamatan warga sipil, sengketa wilayah perbatasan, dan perebutan sumber daya mineral di tengah konflik berkepanjangan.

Organisasi Emergency Lawyers menyatakan jumlah korban tersebut masih bersifat sementara. Upaya pendataan dan verifikasi terus dilakukan karena lokasi kejadian berada di kawasan pegunungan terpencil yang jauh dari pusat permukiman.

Laporan Agence France-Presse (AFP) menyebutkan, kelompok tersebut menuding angkatan udara Mesir melancarkan serangan di Jabal al-Uqaydat, kawasan pertambangan emas informal dekat perbatasan kedua negara. Namun, AFP belum dapat memverifikasi laporan itu secara independen, sedangkan pemerintah Mesir belum menyampaikan tanggapan resmi mengenai insiden tersebut.

Kesaksian para penyintas menggambarkan situasi mencekam ketika serangan terjadi. Abdelaziz Youssef, salah seorang penambang yang selamat, mengatakan sebuah pesawat jet terlihat di atas lokasi tambang sekitar pukul 08.00 waktu setempat pada Sabtu.

“melakukan serangan sebanyak lima kali; banyak orang tewas,” kata Youssef kepada AFP.

Ia juga menceritakan upayanya menyelamatkan diri untuk menghindari serangan berikutnya.

“Kami berlari mendaki gunung karena ketakutan akan adanya serangan susulan,” ujarnya kepada AFP.

Penyintas lainnya, Sharaf Ali, mengatakan ribuan orang berada di lokasi tambang ketika serangan berlangsung. Kepanikan membuat para pekerja melarikan diri ke berbagai arah sehingga jumlah korban sulit dipastikan.

“Setelah serangan udara, orang-orang berlarian; sebagian menuju Pasar Al-Ansary sementara yang lain pergi ke arah berbeda. Itulah sebabnya tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah korban tewas,” ujarnya saat berada di pasar emas, tepat di sebelah selatan Segitiga Halayeb.

Kedua penyintas mengaku melihat jenazah tergeletak di tanah saat mereka melarikan diri. Mereka juga mengkhawatirkan kemungkinan adanya korban lain yang masih tertimbun reruntuhan. Kondisi geografis yang terpencil diperkirakan menyulitkan proses penanganan dan pendataan korban.

Dalam pernyataannya, Emergency Lawyers menyebut serangan itu terjadi di wilayah Sudan. Organisasi tersebut menilai serangan berulang di kawasan yang kaya emas dan mineral berkaitan dengan persoalan penguasaan sumber daya alam.

“Serangan berulang di wilayah perbatasan yang kaya akan emas dan mineral ini mencerminkan keinginan otoritas Mesir untuk memperluas dan menegaskan kendali atas sumber daya alam Sudan,” demikian pernyataan kelompok tersebut.

Insiden pada Sabtu itu menjadi serangan kedua yang dilaporkan terjadi di kawasan Jabal al-Uqaydat sepanjang 2026. Pada Juni lalu, serangan udara yang juga diduga dilakukan Mesir dilaporkan menewaskan 23 pekerja di lokasi penambangan emas informal tersebut.

Saat itu, militer Mesir tidak secara terbuka mengakui serangan terhadap para penambang, tetapi menyatakan telah melaksanakan “operasi berskala besar” untuk menindak aktivitas penambangan emas ilegal di wilayah yang diklaim sebagai bagian dari teritorialnya. Militer Mesir juga melaporkan penahanan 223 orang, termasuk 136 warga negara asing, dalam operasi tersebut serta menyatakan akan memerangi “penambangan emas ilegal dan penyelundupan senjata” di kawasan perbatasan.

Persoalan ini berkaitan dengan sengketa wilayah Segitiga Halayeb yang diklaim oleh Sudan dan Mesir. Kawasan perbatasan tersebut memiliki cadangan mineral berharga dan selama bertahun-tahun menjadi jalur perdagangan emas, aktivitas ilegal, serta perdagangan manusia.

Di sisi lain, Mesir merupakan sekutu penting pemimpin militer Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, yang pasukannya berperang melawan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Konflik yang pecah pada April 2023 itu telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan memperburuk krisis kemanusiaan, mendorong sebagian masyarakat mencari penghasilan melalui pertambangan emas yang berisiko.

Penyelidikan dan verifikasi independen diperlukan untuk memastikan jumlah korban, lokasi pasti serangan, serta pihak yang bertanggung jawab. Kejelasan fakta tersebut juga penting untuk menilai dugaan pelanggaran terhadap warga sipil dan mencegah meningkatnya ketegangan di wilayah perbatasan Sudan–Mesir. []

Redaksi 03

Bagikan:
Internasional Kriminal