HALMAHERA UTARA – Aktivitas vulkanik Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut), kembali menunjukkan peningkatan dengan terjadinya erupsi pada Sabtu (30/05/2026) pukul 06.23 Waktu Indonesia Timur (WIT). Dalam kurun sepekan terakhir, gunung api aktif tersebut tercatat telah mengalami lima kali letusan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kolom abu saat erupsi teramati mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak atau 1.787 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal terpantau bergerak ke arah timur.
Erupsi masih berlangsung ketika laporan aktivitas gunung api diterbitkan. Informasi tersebut sebagaimana dilansir Kompas, Sabtu, (30/05/2026).
Selain letusan yang terjadi pada pagi hari, aktivitas kegempaan Gunung Dukono juga masih cukup tinggi.
PVMBG juga mencatat 73 kali gempa low frequency dengan amplitudo 3 hingga 6 milimeter dan durasi 10,57 hingga 42,36 detik. Selain itu, terdeteksi satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 4 milimeter, s-p 1,24 detik, dan lama gempa 7,65 detik.
Meski status Gunung Dukono masih berada pada Level II atau Waspada, PVMBG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sekitar Kawah Malupang Warirang. Warga maupun pengunjung diminta tidak mendekati area kawah dalam radius 4 kilometer guna menghindari risiko paparan material vulkanik maupun potensi bahaya lainnya.
Data MAGMA Indonesia menunjukkan sepanjang tahun 2026 telah terjadi 2.224 letusan gunung api di Indonesia. Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi gunung api dengan frekuensi erupsi tertinggi, yakni 1.119 kali letusan, sedangkan Gunung Dukono tercatat telah mengalami 152 kali erupsi hingga akhir Mei 2026.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, masyarakat di sekitar Dukono diimbau terus memantau informasi resmi dari PVMBG dan mengikuti seluruh rekomendasi mitigasi yang telah ditetapkan guna meminimalkan risiko bencana. []
Redaksi05

