BEIRUT – Peluang terciptanya gencatan senjata di Lebanon mulai terbuka setelah Hizbullah menyatakan menerima proposal Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan serangan terhadap Israel dengan syarat Israel menghentikan serangan di wilayah Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut.
Kesepakatan tersebut menjadi perkembangan penting di tengah konflik yang telah berlangsung sejak Maret 2026 dan menimbulkan ribuan korban jiwa. Proposal itu juga muncul menjelang putaran keempat perundingan langsung yang difasilitasi AS antara Israel dan Lebanon.
Berdasarkan pernyataan Kedutaan Besar Lebanon di Washington yang dibagikan oleh kepresidenan Lebanon, serangan Israel di Dahiyeh akan dihentikan sebagai imbalan atas penghentian serangan Hizbullah ke wilayah Israel.
Presiden AS Donald Trump mengklaim telah berperan dalam mendorong kedua pihak untuk menurunkan eskalasi konflik. Trump menyampaikan bahwa komunikasi intensif telah dilakukan dengan Pemerintah Israel maupun Hizbullah.
“Tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut, dan pasukan yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan,” kata Trump di jaringan media sosial Truth Social miliknya.
“Demikian pula, melalui perwakilan tingkat tinggi, saya melakukan panggilan telepon yang sangat baik dengan Hezbollah, dan mereka setuju bahwa semua penembakan akan berhenti – bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel,” tambah Trump, sebagaimana dilansir Channel News Asia, Selasa (02/06/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump melakukan percakapan melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meski demikian, Netanyahu menegaskan Israel tetap akan mengambil tindakan militer apabila serangan dari Hizbullah berlanjut.
Netanyahu kemudian mengatakan bahwa ia telah memberi tahu Trump “bahwa jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga negara kami, Israel akan menyerang target teroris di Beirut”.
Trump selanjutnya menyatakan harapan agar penghentian konflik dapat berlangsung secara permanen.
Namun, situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan yang tinggi. Anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah mengatakan posisi kelompoknya tetap mengedepankan penghentian konflik secara menyeluruh di seluruh wilayah Lebanon.
Menurut laporan saluran televisi Al-Manar, Fadlallah menyebut posisi Hizbullah “jelas dan menetapkan gencatan senjata komprehensif di seluruh wilayah Lebanon”.
Di sisi lain, sejumlah serangan masih dilaporkan terjadi setelah pengumuman Trump. Hizbullah mengklaim tetap melancarkan beberapa serangan terhadap target Israel, terutama di wilayah Lebanon selatan.
Ketegangan juga diperburuk oleh sikap Iran yang menegaskan gencatan senjata di Lebanon menjadi syarat utama bagi kesepakatan apa pun dengan Washington. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran mengancam akan membuka “front baru” dalam konflik sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
Kantor Berita Nasional (National News Agency/NNA) Lebanon melaporkan serangan udara Israel menghantam puluhan lokasi di Lebanon selatan, termasuk sebuah serangan yang merusak Rumah Sakit Jabal Amel di Kota Tyre.
Rekaman video yang dibagikan Kementerian Kesehatan Lebanon memperlihatkan kerusakan pada bangsal rumah sakit, dengan puing-puing berserakan, langit-langit runtuh, kaca pecah, dan bercak darah di sejumlah area.
Korban sipil juga terus berjatuhan. Pastor Antonios Farah, pendeta di Desa Qlayaa yang berada dekat perbatasan, mengatakan serangan terhadap sebuah mobil menewaskan satu keluarga saat mereka dalam perjalanan pulang dari Beirut.
Menurut Farah, seorang pria bersama putra dan putrinya yang berstatus mahasiswa tewas ketika kendaraan yang mereka tumpangi diserang saat kembali dari ujian universitas.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 3.433 orang tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026. Sementara itu, militer Israel melaporkan dua tentaranya tewas di Lebanon selatan sehingga total korban tewas di pihak militer Israel sejak awal Maret mencapai 27 orang.
Perkembangan terbaru tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang penyelesaian diplomatik, meskipun bentrokan bersenjata dan ancaman eskalasi konflik masih membayangi kawasan Timur Tengah. []
Redaksi05

