LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang (Lumajang) dan Kabupaten Malang (Malang), Jawa Timur, kembali meningkat. Dalam rentang waktu kurang dari delapan jam pada Kamis (04/06/2026), gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami tujuh kali erupsi dengan tinggi kolom letusan mencapai 700 meter di atas puncak.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi terakhir terjadi pada pukul 07.47 WIB. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat daya.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan tinggi kolom letusan pada erupsi ketujuh mencapai sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut.
“Erupsi ketujuh terjadi pada pukul 07.47 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Sigit Rian Alfian, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis, (04/06/2026).
Selain erupsi yang terjadi berulang kali, aktivitas kegempaan Semeru juga masih cukup tinggi. Dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat 16 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 12-22 milimeter dan durasi 51-142 detik.
“Kemudian tiga kali gempa embusan dengan amplitudo 3-7 mm, dan lama gempa 47-49 detik, serta satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 34 mm, S-P 20 detik dan lama gempa 78 detik,” tuturnya.
Saat ini, Gunung Semeru masih berada pada Status Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan guna menghindari risiko bencana akibat aktivitas vulkanik.
Sigit menjelaskan masyarakat tidak diperkenankan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Selain itu, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak awan panas maupun aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terus memantau perkembangan aktivitas Semeru. Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai berhulu di puncak gunung diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar, terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta anak-anak sungainya. []
Redaksi05

