Guru Diserang di Sekolah Kuching, Polisi Malaysia Lakukan Penyelidikan

Guru Diserang di Sekolah Kuching, Polisi Malaysia Lakukan Penyelidikan

Bagikan:

Polisi Sarawak menyelidiki dugaan penyerangan terhadap seorang guru menggunakan kapak oleh remaja berusia 16 tahun di Kuching, sementara pihak sekolah memperketat keamanan dan menyiapkan dukungan bagi siswa.

KUALA LUMPUR – Penyelidikan polisi dan pengetatan keamanan sekolah menjadi tindak lanjut utama setelah seorang remaja berusia 16 tahun diduga menyerang seorang guru menggunakan kapak di Tunku Putra-HELP International School (TPH), Kuching, Malaysia, Rabu (21/10/2026). Insiden tersebut juga menjadi perhatian karena pelaku diduga menyiarkan aksi penyerangan secara langsung melalui media sosial.

Penjabat Komisaris Polisi Sarawak, Saifullizan Ishak, menyatakan rekaman penyerangan berdurasi 12 menit 6 detik memperlihatkan kejadian dari sudut pandang remaja tersebut. Rekaman itu kemudian dihapus oleh Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC), sebagaimana diberitakan Free Malaysia Today, Kamis (22/10/2026).

“Video (penyerangan) tersebut telah dihapus oleh Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC),” ujar Saifullizan Ishak.

Polisi menyelidiki kasus tersebut berdasarkan Pasal 324 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Malaysia mengenai tindakan sengaja menyebabkan luka menggunakan senjata berbahaya. Penyelidikan juga mencakup Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Bahan Peledak 1957.

Remaja yang diduga terlibat sempat ditahan sebelum dibebaskan dengan jaminan polisi. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk mendalami peristiwa tersebut dan dugaan pelanggaran hukum yang terjadi.

Di sisi lain, pihak sekolah memastikan guru yang menjadi korban berada dalam kondisi stabil dan menjalani pemulihan. Para siswa yang berada di ruang kelas saat kejadian dilaporkan berhasil menyelamatkan diri, sementara tidak ada korban cedera lain yang dilaporkan.

“Saat ini, guru tersebut dalam proses pemulihan yang baik dan tidak mengalami cedera kritis,” ucap pihak sekolah.

Pihak sekolah juga menyampaikan penghargaan atas sikap guru tersebut selama insiden berlangsung.

“TPH sangat menghargai keberanian dan ketenangan guru kami selama kejadian berlangsung, serta mendoakan agar beliau segera pulih sepenuhnya,” imbuh pernyataan itu.

Sekolah turut menegaskan bahwa remaja yang diduga terlibat bukan lagi siswa aktif di TPH.

Sebagai langkah pencegahan, kegiatan sekolah pada hari kejadian dihentikan lebih awal atas saran polisi. Orang tua diberi tahu agar menjemput anak-anak mereka. Pihak sekolah menyatakan kegiatan belajar-mengajar akan kembali berlangsung setelah memperoleh izin dari otoritas terkait.

Pengamanan di lingkungan sekolah juga diperketat. Tiga petugas polisi tambahan (auxiliary police) akan ditempatkan di area sekolah, sementara pemeriksaan keamanan diberlakukan bagi setiap orang yang memasuki kampus. Pihak sekolah juga tengah mempertimbangkan langkah perlindungan jangka panjang yang lebih menyeluruh.

Selain memperkuat keamanan fisik, pimpinan sekolah berencana mengadakan pertemuan untuk menjelaskan insiden kepada komunitas sekolah, menjawab kekhawatiran siswa, serta menyediakan layanan konseling bagi mereka yang membutuhkan. Departemen Pendidikan Sarawak menyatakan telah menghubungi pihak sekolah dan siap memberikan dukungan kepada pihak-pihak yang terdampak.

Kasus ini menyoroti pentingnya penanganan insiden kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pengawasan keamanan, perlindungan korban, dukungan psikologis bagi siswa, serta pengendalian penyebaran rekaman kekerasan di media sosial. []

Redaksi 03

Bagikan:
Internasional Kriminal