GAZA – Kekhawatiran terhadap memburuknya kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali mengemuka setelah Pemerintah Israel berencana memperluas wilayah yang berada di bawah kontrol militernya hingga mencapai 70 persen kawasan tersebut. Gerakan perlawanan Palestina Hamas menilai langkah itu sebagai upaya mempermanenkan pendudukan sekaligus mempersempit ruang hidup warga Palestina yang masih bertahan di Gaza.
Rencana tersebut disampaikan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang mengaku telah memerintahkan militer untuk meningkatkan cakupan wilayah yang dikuasai dari sekitar 60 persen menjadi 70 persen Jalur Gaza. Kebijakan itu disebut melampaui ketentuan yang sebelumnya diatur dalam skema gencatan senjata.
Menanggapi hal tersebut, pejabat Hamas Ismail Al-Thawabta menegaskan bahwa perluasan wilayah kontrol militer Israel tidak memiliki dasar legitimasi dan berpotensi memperparah penderitaan warga sipil.
Menurut Hamas, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya mengubah kondisi di lapangan melalui pendudukan yang lebih luas. Kelompok itu juga menilai langkah Israel dapat mendorong perpindahan paksa penduduk Palestina dari wilayah tempat tinggal mereka.
Rencana perluasan kontrol militer itu memicu perhatian berbagai pihak internasional. Sejumlah negara di Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, dilaporkan menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak kemanusiaan yang dapat muncul apabila wilayah yang dapat dihuni warga Palestina semakin berkurang.
Organisasi kemanusiaan juga mengingatkan potensi meningkatnya kepadatan penduduk di area yang tersisa serta memburuknya akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko krisis kemanusiaan di tengah konflik yang masih berlangsung.
Data terbaru menunjukkan sebagian besar wilayah Gaza telah mengalami kerusakan berat sejak perang pecah pada Oktober 2023. Situasi tersebut membuat jutaan warga menghadapi tantangan besar, mulai dari pengungsian berulang hingga keterbatasan akses terhadap bantuan kemanusiaan.
Sementara itu, proses diplomatik untuk mencari penyelesaian permanen konflik masih menemui berbagai hambatan. Sejumlah isu utama yang belum menemukan titik temu meliputi penarikan pasukan Israel, masa depan tata kelola Gaza, serta tuntutan perlucutan senjata kelompok perlawanan Palestina.
Perkembangan terbaru ini dinilai berpotensi memperumit upaya perdamaian yang tengah diupayakan berbagai pihak. Di tengah ketidakpastian tersebut, warga Gaza masih harus menghadapi ancaman keamanan dan kondisi kemanusiaan yang terus memburuk, sebagaimana diberitakan Mina, Sabtu, (30/05/2026). []
Redaksi05

