Kerusakan lahan pertanian dan jaringan irigasi akibat pergeseran tanah sejak 2024, ditambah kemarau panjang sejak Juni 2026, mendorong semakin banyak warga Waringinsari, Cianjur, mencari penghidupan ke luar daerah.
JAWA BARAT – Kerusakan lahan pertanian dan jaringan irigasi akibat pergeseran tanah sejak 2024 membuat kehidupan ekonomi warga Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, semakin tertekan. Kondisi tersebut diperparah kemarau panjang sejak Juni 2026 hingga mendorong semakin banyak warga meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan ke luar daerah, bahkan ke luar pulau.
Ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian menjadi salah satu faktor yang membuat dampak kekeringan semakin terasa. Ketika sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air akibat rusaknya jaringan irigasi, warga kehilangan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sidik (35), salah seorang warga Waringinsari, mengatakan fenomena merantau sebenarnya sudah mulai terjadi sejak bencana pergeseran tanah pada 2024. Kerusakan sejumlah lahan pertanian sejak saat itu membuat sebagian warga kesulitan mempertahankan mata pencaharian.
“Karena sebagian besar warga di sini kerjanya bertani. Sehingga kondisi ini cukup berdampak terhadap perekonomian warga,” ujar Sidik saat dihubungi Kompas.com, Jumat (30/10/2026) petang, sebagaimana dilansir Kompas, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Sidik, kemarau panjang semakin memperburuk keadaan karena lahan persawahan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Kerusakan saluran irigasi yang belum pulih membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk mengelola sawah.
Situasi tersebut akhirnya mendorong semakin banyak warga mencari alternatif pekerjaan di luar desa. Sebagian memilih merantau ke daerah lain, termasuk ke luar pulau, demi mendapatkan penghasilan yang dapat menopang kebutuhan rumah tangga.
“Sebenarnya sejak pergeseran tanah itu sudah mulai pada merantau. Tapi selama kemarau panjang kemarin, semakin banyak yang merantau,” ucapnya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan di Waringinsari bukan sekadar masalah berkurangnya ketersediaan air, melainkan juga menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat yang bergantung pada pertanian.
Kerusakan infrastruktur pengairan akibat pergeseran tanah serta kemarau berkepanjangan menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Pemulihan lahan pertanian dan jaringan irigasi diharapkan dapat membuka kembali peluang warga untuk bekerja di kampung halaman sehingga ketergantungan terhadap pekerjaan di luar daerah dapat berkurang. []
Redaksi 01

