Kabupaten Malang, Malang, Jawa Timur, tanah longsor Malang, banjir Malang, bencana hidrometeorologi, BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, Pusdalops PB, Sumbermanjing Wetan, Sumawe, Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, Turen, pipa air bersih putus, kerusakan infrastruktur, jalan longsor, cuaca ekstrem.
JAWA TIMUR – Terputusnya akses jalan dan rusaknya jaringan air bersih menjadi dampak penting dari rangkaian banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bencana yang dipicu hujan berintensitas tinggi sejak Senin dini hari, 2 November 2026, itu merusak permukiman dan infrastruktur di delapan kecamatan, sehingga pemerintah daerah masih melakukan penanganan darurat serta pemantauan wilayah terdampak.
Salah satu kerusakan yang membutuhkan perhatian ialah putusnya jaringan pipa air bersih sepanjang tujuh kilometer di kawasan pondok pesantren, Kecamatan Dampit. Selain mengganggu infrastruktur, kondisi tersebut berpotensi menyulitkan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga dan lingkungan pesantren.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) hingga Selasa malam, 3 November 2026, bencana melanda Kecamatan Ampelgading, Bantur, Dampit, Pagelaran, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Tirtoyudo, Donomulyo, dan Turen.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menyampaikan bahwa penanganan dan pemantauan masih berlangsung di sejumlah lokasi. Sebagaimana dilansir Metro TV, Rabu (4/11/2026), ia mengatakan, “Hari ini Rabu 4 November 2026 tim ekskavator dan tanki penanganan dan monitoring wilayah Gandusari Tirtoyudo,”.
Gangguan akses transportasi juga menjadi persoalan di sejumlah titik. Di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, longsor di Desa Klepu memutus jalan poros desa dan merusak enam rumah warga di Dusun Prangas serta Sumbergentong. Kerugian material di wilayah tersebut ditaksir mencapai Rp1 miliar.
Sementara itu, banjir setinggi mata kaki merendam 58 rumah di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, dengan perkiraan kerugian sekitar Rp200 juta. Longsor juga merusak rumah di Desa Sonowangi, Sidorenggo, dan Wirotaman, serta sempat menutup akses jalan.
Meski demikian, kondisi di sejumlah jalur mulai membaik. Sadono menyebut air telah surut dan kendaraan roda dua maupun roda empat sudah dapat melintas, meskipun petugas masih melakukan pembersihan material bencana.
“Kondisi saat ini air sudah surut dan akses jalan sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda 2 atau 4, baik dari jalur Sonowangi maupun Puncak Bundu namun masih dalam proses pembersihan,” ungkap Sadono.
Dampak lainnya tercatat di Kecamatan Tirtoyudo. Longsor merusak tebing di sekitar sembilan rumah di Dusun Sukomulyo serta jalan di wilayah Sumbertangkil. Di Kecamatan Dampit, longsor juga menghantam rumah di Kampung Teh Sukodono. Adapun di Kecamatan Turen, separuh badan jalan pada Jembatan Sanankerto dilaporkan ambrol.
Pemerintah Kabupaten Malang terus mengerahkan alat berat dan truk tangki air bersih untuk mendukung penanganan darurat. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam rangkaian bencana tersebut dan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem susulan.
Pemulihan akses jalan dan jaringan air bersih menjadi hal penting agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Pemerintah daerah juga perlu memastikan pendataan kerusakan dan kebutuhan warga terdampak dilakukan secara menyeluruh, terutama pada fasilitas umum dan infrastruktur yang menunjang kebutuhan dasar. []
Redaksi 01

