BANDAR LAMPUNG – Persidangan perkara dugaan korupsi proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kabupaten Pesawaran kembali mengungkap persoalan layanan air bersih yang belum optimal. Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, saksi dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Pesawaran mengakui distribusi air kepada pelanggan masih terkendala kebocoran jaringan dan kondisi geografis wilayah.
Sidang yang digelar pada Rabu (17/06/2026) itu menghadirkan agenda pemeriksaan saksi dalam perkara yang menjerat mantan Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona, dan pihak lain. Persidangan dipimpin hakim Enan Sugiarto di Ruang Garuda PN Tanjungkarang.
Keterangan saksi sebelumnya dari Kepala Unit PDAM Pesawaran, Maidi, menjadi sorotan karena memaparkan kondisi infrastruktur SPAM yang hingga kini belum berfungsi secara maksimal.
“Aliran air ke pelanggan belum maksimal. Saat uji coba masih ditemukan kebocoran di jaringan,” ujar Maidi dalam persidangan, sebagaimana dilansir Tribun Lampung, Kamis, (22/05/2026).
Menurut Maidi, sumber air bagi empat desa berasal dari Cangkuang. Namun, sambungan rumah (SR) yang telah terpasang belum seluruhnya aktif sebagai pelanggan PDAM.
Ia menjelaskan kapasitas distribusi air yang tersedia saat ini hanya mampu melayani 235 SR aktif di tiga desa, yakni Desa Pasar Baru sebanyak 76 SR, Desa Way Kepayang 54 SR, dan Desa Umbul Batu 105 SR.
Selain itu, sebagian pelanggan lama telah dipindahkan ke jaringan baru SPAM. Untuk sementara, distribusi air masih menggunakan pipa berdiameter 4 inci dari sumber air Cangkuang.
Dalam persidangan, Maidi juga mengungkapkan bahwa pihak PDAM sempat memiliki keraguan saat proses serah terima pengelolaan jaringan pada 31 Juli 2023 karena kondisi infrastruktur belum sepenuhnya siap.
“Masih ada kebocoran, sehingga pimpinan kami sempat membahas rencana menghadiri serah terima itu,” katanya.
Persoalan distribusi tidak hanya dipengaruhi kebocoran jaringan, tetapi juga kontur wilayah pelanggan yang berada di dataran lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat pengaliran air harus dilakukan secara bergiliran agar tekanan air dapat menjangkau seluruh permukiman.
“Informasi ke pelanggan, pengaliran dilakukan sekitar 12 jam supaya tekanan air bisa naik ke wilayah yang lebih tinggi,” ujar Maidi.
Ia menambahkan, warga di Desa Kedondong dan Desa Pasar Baru telah menerima layanan air secara bergiliran selama sekitar satu tahun setelah migrasi dari jaringan lama ke jaringan baru SPAM.
Sementara itu, sidang dugaan korupsi SPAM Pesawaran masih berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi lainnya. Keterangan para saksi diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai pelaksanaan proyek serta dampaknya terhadap layanan publik bagi masyarakat. []
Redaksi05

