Titik Panas Menurun, Ancaman Karhutla di Kaltim Belum Berakhir

Titik Panas Menurun, Ancaman Karhutla di Kaltim Belum Berakhir

Bagikan:

Jumlah titik panas di Kaltim turun menjadi 27 titik pada 1 November 2026, tetapi kebakaran lahan masih terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Sepaku, kawasan delineasi IKN.

KALIMANTAN TIMUR – Penurunan jumlah titik panas di Kalimantan Timur (Kaltim) hingga tersisa 27 titik pada Minggu, 1 November 2026, belum sepenuhnya menandakan berakhirnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), petugas gabungan masih menangani sejumlah kebakaran lahan meskipun wilayah tersebut tidak terdeteksi memiliki titik panas dalam pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kondisi itu menunjukkan bahwa penurunan indikator titik panas melalui pemantauan satelit tetap perlu diikuti pengawasan langsung di lapangan. Berdasarkan data BMKG, jumlah titik panas di Kaltim turun tajam dari 1.135 titik pada Jumat (30/10/2026) pukul 22.35 Waktu Indonesia Tengah (WITA), menjadi 155 titik pada Sabtu (31/10/2026), kemudian tersisa 27 titik pada Minggu (1/11/2026).

Data hasil olahan File Transfer Protocol (FTP) Himawari BMKG yang diperbarui pukul 18.35 WITA menunjukkan seluruh 27 titik tersebut masuk kategori tingkat kepercayaan sedang. Tidak ditemukan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi maupun rendah.

Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Kabupaten Paser, masing-masing tujuh titik. Di Kubar, lima titik terdeteksi di Kecamatan Damai dan dua titik di Kecamatan Muara Pahu. Sementara di Paser, lima titik berada di Kecamatan Batu Sopang dan dua lainnya di Kecamatan Muara Samu.

Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat lima titik panas. Sebarannya meliputi dua titik di Kecamatan Muara Bengkal serta masing-masing satu titik di Kecamatan Bengalon, Kaubun, Muara Ancalong, dan Telen.

Adapun tiga titik lainnya terdeteksi di Kabupaten Berau, masing-masing satu titik di Kecamatan Biduk-Biduk, Gunung Tabur, dan Sambaliung. Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat dua titik, masing-masing di Kecamatan Muara Kaman dan Muara Wis.

Di sisi lain, aktivitas pemadaman masih berlangsung di kawasan Sepaku yang masuk dalam delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, menyatakan tim gabungan tetap bersiaga meskipun pemantauan tidak menunjukkan adanya titik panas di wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan Posko Sepaku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) PPU, terdapat beberapa kejadian karhutla dalam rentang 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Kebakaran pertama terjadi di lahan kosong Desa Wonosari pada Sabtu (31/10/2026). Api menghanguskan area sekitar tiga hektare di Rukun Tetangga (RT) 06.

Pada Minggu dini hari (1/11/2026), kebakaran semak belukar kembali terjadi di Desa Semoi, tepatnya di RT 08, dengan luas area terdampak sekitar 0,3 hektare. Sementara itu, kebakaran serupa di Desa Bukit Raya berhasil ditangani tim gabungan pada hari yang sama.

“Kejadian di Desa Bukit Raya, Sepaku, juga telah berhasil ditangani oleh tim gabungan pada hari yang sama,” pungkas Nurlaila.

BMKG tetap mengimbau masyarakat dan pihak terkait agar tidak melakukan pembakaran lahan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api baru. Informasi terkini mengenai cuaca dan sebaran titik panas dapat dipantau melalui laman resmi BMKG Kaltim.

Perbedaan antara hasil pemantauan satelit dan kejadian kebakaran di lapangan menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan data titik panas. Pengawasan wilayah, kesiapsiagaan petugas, dan pelaporan cepat dari masyarakat tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama di kawasan sekitar IKN. []

Redaksi 01

Bagikan:
Bencana Berita Daerah