KALIMANTAN BARATÂ – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengalihkan sebagian armada udara dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan ke Jawa Timur untuk menyesuaikan kebutuhan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebijakan ini diambil karena kondisi cuaca dan jarak pandang di sejumlah wilayah belum mendukung pelaksanaan operasi pemadaman maupun modifikasi cuaca secara optimal.
Penyesuaian armada dilakukan berdasarkan evaluasi kondisi atmosfer, kebutuhan operasi, dan keselamatan penerbangan. BNPB mengatur ulang penempatan pesawat dan helikopter agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif di wilayah yang membutuhkan dukungan lebih mendesak.
Di Kalimantan Barat, satu pesawat patroli yang digunakan untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dipindahkan ke Jawa Timur. Keputusan tersebut diambil karena potensi pertumbuhan awan di Kabupaten Ketapang belum memadai untuk mendukung pelaksanaan OMC.
Setelah pemindahan tersebut, Kalimantan Barat masih memiliki tujuh pesawat pengebom air (water bombing), yang terdiri atas tiga pesawat milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan empat pesawat milik BNPB. Selain itu, dua pesawat patroli dan OMC tetap disiagakan untuk mendukung pemantauan serta kebutuhan operasi di wilayah tersebut.
Penyesuaian serupa dilakukan di Kalimantan Selatan dengan memindahkan satu helikopter pengebom air ke Jawa Timur. Saat ini, wilayah tersebut masih didukung sembilan pesawat untuk kegiatan OMC dan patroli serta enam helikopter pengebom air.
Kondisi jarak pandang (visibility) yang belum memenuhi persyaratan penerbangan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengalihan helikopter dari Kalimantan Selatan. Situasi tersebut membuat pemadaman melalui udara perlu disesuaikan dengan kondisi keselamatan penerbangan.
Sebagai alternatif penanganan, operasi di Kalimantan Selatan lebih diarahkan pada OMC menggunakan bahan semai berupa es kering (dry ice) dan natrium klorida (NaCl). Penggunaan bahan tersebut ditujukan untuk mendukung pembentukan hujan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer setempat.
BNPB terus berkoordinasi dengan TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, dan unsur terkait untuk mengevaluasi kebutuhan penanganan karhutla. Penempatan armada udara dapat kembali disesuaikan mengikuti perkembangan cuaca, kebutuhan pemadaman, dan kelayakan penerbangan.
Pengalihan armada ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan karhutla dengan menempatkan dukungan udara sesuai prioritas operasi. Meski sebagian armada dipindahkan, BNPB tetap mengupayakan dukungan penanganan di Kalimantan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia dan evaluasi berkala terhadap kondisi di lapangan. []
Redaksi1

