Viral Remaja Bawa Sajam di Banjarmasin, Psikolog Ungkap Faktor Pemicunya

Viral Remaja Bawa Sajam di Banjarmasin, Psikolog Ungkap Faktor Pemicunya

Bagikan:

BANJARMASIN – Viral video sekelompok remaja yang diduga membawa senjata tajam di Gang Hariti, Jalan Tembus Mantuil, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali memunculkan sorotan terhadap fenomena kekerasan remaja dan dugaan aktivitas kelompok jalanan yang melibatkan anak muda.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 03.00 WITA pada Jumat (05/06/2026) tersebut beredar luas di media sosial. Berdasarkan informasi yang beredar, kelompok remaja itu diduga melakukan penyerangan terhadap kelompok lain. Akibat kejadian tersebut, dua remaja warga sekitar dilaporkan mengalami luka pada bagian tangan dan pinggang.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari aparat kepolisian terkait kronologi maupun identitas para pelaku, sebagaimana diberitakan Wartabanjar, Jumat (05/06/2026).

Di tengah maraknya kasus serupa, Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Nurchayati, menilai keterlibatan remaja dalam aksi kekerasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pencarian jati diri hingga lingkungan pergaulan yang tidak kondusif.

Menurut Nurchayati, masa remaja merupakan fase ketika seseorang berusaha memperoleh pengakuan dan menunjukkan eksistensinya. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan tersebut dapat diekspresikan melalui tindakan negatif apabila tidak diarahkan ke kegiatan yang lebih produktif.

“Satu sisi mereka ini bisa juga kurang perhatian dari orang tua, lantas mencari perhatian di luar dengan cara-cara yang arahnya bisa jadi problem sosial,” ujarnya.

Selain faktor keluarga, lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku remaja. Lingkungan yang positif dapat menjadi ruang pengembangan diri, sedangkan lingkungan yang negatif berpotensi mendorong perilaku agresif.

“Anak-anak yang lugu saja, kalau ada di kelompok pertemanan yang agresif bisa ikutan agresif,” paparnya.

Nurchayati juga menyoroti pengaruh permainan digital bertema kekerasan yang cukup populer di kalangan anak muda. Menurutnya, paparan konten kekerasan dalam permainan dapat memengaruhi aspek emosional dan perilaku apabila tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai.

“Satu sisi game perang ini bisa berdampak pada aspek emosi atau mental remaja sehingga terbiasa dengan hal-hal yang sering mereka mainkan di game. Di sisi lainnya, game seperti jadi sarana melampiaskan keresahan mereka dan ujung-ujungnya bisa berdampak pada perilaku mereka sehari-hari seperti lebih agresif dan temperamen misalnya,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menilai pendidikan nilai dan karakter, termasuk pendidikan keagamaan, perlu diperkuat baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Menurutnya, pendidikan tersebut tidak cukup hanya berupa teori, melainkan harus diwujudkan dalam pembiasaan dan keteladanan sehari-hari.

“Kalau arahnya ke sana, berarti bukan hafalan muatannya, tetapi lebih ke praktek atau pembiasaan dan keteladanan. Nilai agama ini bisa menjadi rem buat remaja dalam menyalurkan energi mereka,” jelasnya.

Fenomena yang terjadi di Banjarmasin tersebut menjadi pengingat pentingnya keterlibatan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam mencegah perilaku kekerasan di kalangan remaja. Upaya pencegahan dinilai perlu dilakukan secara bersama-sama agar energi dan potensi generasi muda dapat diarahkan ke aktivitas yang lebih positif dan produktif. []

Redaksi05

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews Kriminal