Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai didorong sebagai bagian dari strategi pembelajaran di sekolah-sekolah Kutai Kartanegara, dengan guru tetap menjadi pihak utama yang menentukan penggunaan teknologi di ruang kelas.
KUTAI KARTANEGARA – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) didorong untuk memperkuat proses pembelajaran di sekolah-sekolah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), bukan menggantikan peran guru. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu pendidik menciptakan materi dan metode belajar yang lebih interaktif serta mendorong partisipasi siswa.
Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Hetifah Sjaifudian, mengatakan keberadaan AI seharusnya diikuti peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi. Menurutnya, kekhawatiran terhadap dampak negatif AI perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai pemanfaatannya untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
“Karena selama ini saya melihat di sebagian sekolah justru melihat AI atau penggunaan AI itu dari aspek negatifnya. Khawatir terjadi plagiarisme, anak-anak juga malas berpikir, kadang-kadang justru membuat anak-anak terisolasi dari pergaulan dan sebagainya,” ujar Hetifah di Tenggarong, Selasa (22/9/2026), sebagaimana diberitakan DetikKalimantan, Rabu, (23/09/2026).
Menurut Hetifah, AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai konten pembelajaran yang meningkatkan kerja sama dan partisipasi siswa. Karena itu, guru perlu memahami cara menggunakan teknologi sekaligus mengetahui batasan yang harus diperhatikan dalam penerapannya.
“Padahal justru sebaliknya, AI bisa digunakan untuk menciptakan berbagai konten yang bisa meningkatkan juga kerja sama, meningkatkan juga partisipasi, membuat pembelajaran lebih interaktif, dan guru-guru tentu harus menguasai cara menggunakannya dan sekaligus mengetahui apa hal yang harus dihindari,” jelasnya.
Hetifah juga menilai kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting bagi guru. Menurut dia, AI dapat ditempatkan sebagai asisten untuk membantu guru menjalankan proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti tenaga pendidik.
“Guru-guru juga jangan khawatir bahwa fungsinya akan tergantikan oleh AI. Karena guru-guru yang tidak menggunakan AI pasti tidak akan bisa menyaingi guru-guru yang menggunakan AI. Guru-guru yang menggunakan AI akan lebih disukai oleh anak-anak,” tegasnya.
Penggunaan AI tersebut juga diarahkan untuk melengkapi pemanfaatan Interactive LED Panel atau papan digital interaktif yang disebut telah dimiliki sekolah-sekolah di Kukar. Perangkat itu diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas teknologi, tetapi digunakan secara optimal untuk mendukung kegiatan belajar di kelas.
“Guru-guru mendapatkan satu pengetahuan dan wawasan baru terkait bagaimana digitalisasi di dalam pembelajaran, khususnya lagi terkait dengan penggunaan perangkat yang semua sekolah di Kukar alhamdulillah sudah miliki, yaitu Interactive LED Panel atau papan digital interaktif,” katanya.
Menurut Hetifah, guru perlu terus mengasah keterampilan agar berbagai fitur pada papan digital dapat dimanfaatkan secara maksimal. Integrasi aplikasi pembelajaran dan AI menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan untuk mendukung proses tersebut.
“AI juga berkembang begitu pesat, maka kita harus terus meningkatkan dan mengasah keterampilan kita menggunakannya sebagai asisten kita di dalam proses pembelajaran,” ucapnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat, Intan Rizky Mutiaz, menegaskan teknologi tetap berfungsi sebagai alat dalam pendidikan. Menurutnya, guru memegang peran utama dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan agar memberikan manfaat bagi siswa.
“Saya yakin jawabannya smart board adalah alat, tetapi Bapak Ibu gurulah yang membuat teknologi menjadi bermakna untuk pembelajaran. Dan inilah semangat dari kegiatan pengabdian masyarakat kita di hari ini,” ujar Intan.
Intan mengatakan penerapan teknologi di ruang kelas dapat membuka peluang bagi guru untuk mencoba metode pembelajaran baru. Perubahan metode tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada siswa dalam jumlah besar.
“Satu metode baru yang dicoba di kelas nanti bisa memberikan pengalaman yang berbeda bagi puluhan bahkan ratusan anak,” katanya.
Ia menambahkan, teknologi tidak dapat mengambil alih peran guru dalam membangun pengalaman belajar siswa. Karena itu, pemanfaatan AI dan perangkat digital di sekolah diharapkan tetap menempatkan guru sebagai pengarah utama agar teknologi benar-benar memberikan makna bagi proses pendidikan. []
Redaksi08.

