Pengakuan Pembunuhan Ayah Kandung di Brebes, Polisi Telusuri Bukti

Pengakuan Pembunuhan Ayah Kandung di Brebes, Polisi Telusuri Bukti

Bagikan:

Polisi menyelidiki pengakuan seorang pria di Brebes yang mengaku membunuh dan memutilasi ayah kandungnya, termasuk dengan memeriksa rumah serta membongkar tangki septik untuk mencari bukti.

JAWA TENGAH – Polisi menyelidiki pengakuan seorang pria berinisial HS yang mengaku membunuh dan memutilasi ayah kandungnya beberapa bulan lalu di Brebes, Jawa Tengah. Untuk menindaklanjuti pengakuan tersebut, penyidik memeriksa lokasi tempat tinggal HS dan membongkar bagian tangki septik guna mencari kemungkinan adanya sisa tubuh korban.

Kasus ini terungkap setelah HS mendatangi Kepolisian Sektor (Polsek) Kersana pada Kamis malam. Dalam pemeriksaan awal, ia mengaku telah membunuh ayahnya, memotong tubuh korban menjadi beberapa bagian, lalu membuang sisa-sisanya dengan cara berbeda. Namun, seluruh pengakuan tersebut masih harus diverifikasi melalui penyelidikan dan pemeriksaan barang bukti.

Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Kersana Heri Sukamto mengatakan, berdasarkan pengakuan HS, tubuh korban dipotong menjadi 10 bagian. Potongan tersebut disebut direbus selama dua hari, kemudian dibuang ke Sungai Kluwut, sedangkan tulangnya dibakar hingga menjadi abu.

“Pengakuannya, ayah dia dibunuh dan dipotong 10 bagian. Potongan direbus 2 hari hingga hancur dan dibuang ke Sungai Kluwut yang menuju ke laut. Tulangnya dibakar hingga menjadi abu,” kata Heri, sebagaimana dilansir DetikJateng, Minggu (18/10/2026).

Polisi kemudian mendatangi rumah HS di sebuah kompleks perumahan di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Brebes. Salah satu langkah yang dilakukan ialah membongkar bagian tangki septik untuk memeriksa kemungkinan adanya bagian tubuh korban yang dibuang ke saluran tersebut.

“Hari ini (kemarin), rumah HS yang di kompleks perumahan dibongkar bagian septic tank-nya,” jelas Heri.

“Ini bagian upaya menindaklanjuti pengakuan HS. Barangkali ada bagian tubuh yang dibuang di WC,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kersana Teguh Adi Winarko membenarkan adanya kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa perkara itu masih dalam tahap penyelidikan dan hasil pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) perlu ditindaklanjuti oleh petugas terkait.

“Masih dalam penyelidikan. Tadi olah TKP untuk hasilnya yang lebih tau Inafis,” kata Kapolsek Kersana melalui pesan singkat, Sabtu (17/10), dikutip dari Detikcom.

Di lingkungan tempat tinggalnya, hilangnya korban tidak langsung menimbulkan kecurigaan. Ina, tetangga sekaligus kerabat HS, mengatakan bahwa HS sebelumnya menyampaikan ayahnya sedang berjualan siomai di Kota Tegal. Keterangan itu membuat keluarga dan tetangga mengira korban sedang berada di luar daerah untuk bekerja.

“Nggak ada yang merasa curiga. Kata HS memang ayahnya lagi jualan siomay menggunakan sepeda motor. Kalau istrinya butuh uang dan tanya keberadaan ayahnya, HS selalu mengatakan bahwa kebutuhan keluarganya dia yang tanggung,” ungkapnya, Sabtu (17/10).

Ina juga menggambarkan HS sebagai sosok yang pendiam dan penurut serta menyayangi ibu dan kedua adiknya yang masih bersekolah. Menurut keterangannya, HS bekerja di sebuah pabrik sepatu setelah lulus sekolah menengah atas.

Meski HS telah menyampaikan pengakuan, polisi masih perlu memastikan kronologi kejadian, keberadaan korban, serta bukti yang dapat menguatkan atau membantah keterangan tersebut. Hasil penyelidikan dan pemeriksaan forensik akan menjadi bagian penting untuk mengungkap perkara ini secara menyeluruh dan menentukan langkah hukum selanjutnya. []

Redaksi 03

Bagikan:
Kriminal Nasional