Sedikitnya 40 hingga 50 warga sipil dilaporkan tewas setelah kelompok bersenjata menyerang permukiman di Menaka, Mali timur laut, dan membakar rumah-rumah warga.
MALI- Sedikitnya 40 hingga 50 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan kelompok bersenjata terhadap sejumlah permukiman di wilayah Menaka, Mali timur laut, pada akhir pekan. Para penyerang yang datang menggunakan sepeda motor diduga menembaki warga tanpa pandang usia serta membakar rumah-rumah di Desa Tinabow dan kawasan Tagadayat, sekitar 50 kilometer dari Kota Menaka.
Serangan tersebut terutama menyasar permukiman yang dihuni komunitas Daoussahak. Perbedaan jumlah korban dalam laporan awal muncul dari keterangan sejumlah sumber keamanan dan pejabat setempat. Sebagian laporan menyebut sekitar 40 orang meninggal, sedangkan sumber lainnya memperkirakan jumlah korban telah melampaui 50 jiwa.
Biro eksekutif komunitas Daoussahak menduga kelompok teroris Daesh berada di balik serangan tersebut. Mereka mengecam peristiwa itu sebagai pembantaian dan mendesak penyaluran bantuan kemanusiaan darurat bagi warga yang meninggalkan tempat tinggal dan mengungsi ke Menaka. Komunitas Daoussahak juga memiliki keterkaitan dengan kelompok bersenjata Gerakan untuk Keselamatan Azawad (MSA).
Kesaksian warga menggambarkan serangan berlangsung cepat dan disertai kekerasan. Seorang saksi dari Tinabow mengatakan puluhan sepeda motor tiba-tiba memasuki kawasan permukiman sebelum para penyerang melepaskan tembakan dan membakar rumah-rumah. Para pelaku disebut tidak melakukan komunikasi dengan warga sebelum menyerang.
“Saya melihat puluhan mayat,” katanya, sebagaimana diberitakan TRT, Selasa, (20/10/2026).
Seorang pejabat lokal terpilih juga membenarkan telah melihat lebih dari 50 jenazah, termasuk perempuan dan warga lanjut usia. Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa korban tidak hanya berasal dari kelompok usia tertentu, meskipun laporan awal menyebut sebagian besar korban adalah laki-laki.
Sementara itu, seorang sumber keamanan yang berbasis di Gao menyampaikan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa pembunuhan tersebut diduga merupakan aksi balasan atas operasi militer yang sebelumnya dilakukan di kawasan itu. Dugaan motif tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut, termasuk untuk memastikan identitas pelaku dan pihak yang bertanggung jawab.
Militer Mali mengonfirmasi telah melancarkan operasi dengan sasaran pangkalan utama yang disebut menampung sejumlah elemen teroris beserta peralatan militer. Namun, informasi yang tersedia belum memastikan hubungan langsung antara operasi tersebut dan serangan terhadap warga sipil.
Mali telah menghadapi krisis keamanan berkepanjangan sejak 2012. Konflik melibatkan angkatan bersenjata nasional dan sekutu paramiliternya, kelompok militan, kelompok separatis Tuareg, serta jaringan kriminal. Situasi politik turut berubah setelah junta militer mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 2020 dan 2021.
Serangan di Menaka menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil di tengah konflik yang berlarut-larut. Selain penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku dan mengungkap motif serangan, warga yang mengungsi membutuhkan bantuan darurat, tempat berlindung, serta akses terhadap kebutuhan dasar. []
Redaksi 03

