Runtuhnya tambang emas ilegal di Provinsi Nariño menewaskan 14 orang dan melukai tujuh lainnya, mendorong pemerintah daerah mendesak percepatan formalisasi pertambangan demi meningkatkan keselamatan pekerja.
KOLUMBIA – Kecelakaan tambang emas ilegal di Provinsi Nariño, Kolombia, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai tujuh lainnya pada Senin (19/10/2026) waktu setempat. Tragedi tersebut kembali menyoroti lemahnya standar keselamatan kerja di sektor pertambangan informal yang masih marak di wilayah pedesaan negara itu.
Peristiwa maut tersebut terjadi di kawasan pedesaan Chambero, wilayah administratif Santa Bárbara de Iscuandé, Provinsi Nariño, Kolombia bagian barat daya. Runtuhnya area tambang mengakibatkan sejumlah pekerja menjadi korban sebelum tim penyelamat menyelesaikan operasi pencarian dan evakuasi.
Gubernur Nariño, Luis Alfonso Escobar, mengonfirmasi bahwa operasi pencarian dan penyelamatan korban telah berakhir. Sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Selasa (20/10/2026), pemerintah daerah kemudian mendesak pemerintah nasional dan instansi terkait agar segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi kerja para penambang.
Escobar secara khusus meminta Badan Pertambangan Nasional serta Kementerian Pertambangan dan Energi Kolombia mempercepat penataan status hukum kegiatan pertambangan informal. Upaya tersebut dinilai penting untuk mendorong penerapan standar keselamatan yang lebih baik dan mengurangi risiko kecelakaan kerja.
“Percepat proses formalisasi bagi penambang ilegal dan skala kecil,” tegas Escobar.
“Langkah ini untuk meningkatkan kondisi kerja dan standar keselamatan.”
Desakan tersebut mencerminkan persoalan mendasar dalam pengelolaan pertambangan informal di Kolombia. Banyak kegiatan penambangan di wilayah pedesaan berlangsung tanpa pengaturan hukum yang memadai dan tidak didukung infrastruktur keselamatan yang layak. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan yang dapat merenggut nyawa pekerja.
Ancaman keselamatan di sektor tersebut juga terlihat dari kecelakaan serupa yang terjadi pada Agustus 2026. Sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden tambang di Policarpa, wilayah lain di Provinsi Nariño.
Rentetan kecelakaan itu memperlihatkan perlunya pengawasan pertambangan yang lebih efektif, disertai pembenahan kondisi kerja dan kepastian hukum bagi penambang skala kecil. Percepatan formalisasi diharapkan tidak hanya memberikan kejelasan status usaha, tetapi juga memperkuat penerapan prosedur keselamatan agar kejadian serupa tidak terus berulang. []
Redaksi 03

