Tradisi Behambur Beras Meriahkan Penutupan Bepelas Erau

Tradisi Behambur Beras Meriahkan Penutupan Bepelas Erau

Bagikan:

Ritual Seluang Mudik Betebak Beras pada penutupan Bepelas Erau Adat Kutai 2026 menjadi ruang pewarisan nilai syukur, kemakmuran, dan kearifan lokal kepada masyarakat serta generasi muda di Tenggarong.

TENGGARONG – Ritual Seluang Mudik Betebak Beras menjadi penanda berakhirnya rangkaian Bepelas dalam Festival Erau Adat Kutai 2026 sekaligus menghadirkan pesan budaya tentang rasa syukur atas pangan dan kemakmuran. Prosesi tersebut berlangsung di Ruang Stinggil (Siti Hinggil) Keraton Museum Mulawarman, Tenggarong, Sabtu (26/9/2026).

Ritual pada malam ketujuh Bepelas itu tidak hanya menampilkan rangkaian prosesi adat, tetapi juga mempertemukan unsur Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat dalam satu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, sebagaimana diberitakan Prokom Kukar, Senin, (28/09/2026).

Rangkaian Seluang Mudik Betebak Beras diawali dengan pementasan Tari Kanjar Laki oleh kerabat Kesultanan. Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar Ahmad Yani, dan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur (Kaltim) Bambang Arwanto turut didaulat mengikuti tarian tersebut.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Tari Kanjar Bini yang diikuti Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kukar Andi Deezca Pravidhia Aulia. Setelah itu, sesepuh adat melaksanakan ritual besawai yang diteruskan dengan penaburan beras Sri Weja Kuning diiringi lantunan selawat Nabi.

Bagian utama ritual berlangsung saat tradisi behambur beras dilaksanakan. Sultan, pejabat, kerabat Kesultanan, dan masyarakat saling melempar beras sebagai simbol rasa syukur atas kelimpahan pangan dan kemakmuran yang diyakini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berlangsung melalui pertunjukan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung masyarakat dalam memahami dan menjalankan prosesi adat. Interaksi berbagai unsur dalam ritual menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi di tengah perkembangan zaman.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar juga menempatkan tradisi Seluang Mudik Betebak Beras sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dipertahankan. Pelestarian ritual diharapkan dapat memperkuat hubungan antara Kesultanan, pemerintah daerah, dan masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Bagi generasi muda, rangkaian tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal makna di balik tradisi daerah secara langsung. Pemahaman terhadap nilai filosofis dalam setiap tahapan ritual diharapkan membuat kebudayaan Kutai tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan berakhirnya prosesi Seluang Mudik Betebak Beras, rangkaian Bepelas selama tujuh malam dalam Erau Adat Kutai 2026 resmi ditutup. Tradisi tersebut meninggalkan pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus memaknai pangan dan kemakmuran sebagai bagian dari rasa syukur masyarakat. []

Redaksi08.

Bagikan:
Berita Daerah Headlines