Tragedi Starobilsk, 21 Anak Dilaporkan Tewas dalam Serangan Drone

Tragedi Starobilsk, 21 Anak Dilaporkan Tewas dalam Serangan Drone

Bagikan:

Otoritas Rusia menyebut serangan drone di Starobilsk menghantam kolese dan asrama mahasiswa, menewaskan 21 anak, serta melukai 65 mahasiswa.

LUHANSK – Otoritas Rusia melaporkan serangan pesawat nirawak (drone) menghantam kolese, asrama mahasiswa, dan sejumlah bangunan di Kota Starobilsk, Luhansk, pada Jum’at (22/05/2026). Serangan yang disebut dilakukan Ukraina itu dilaporkan menewaskan 21 anak dan melukai 65 mahasiswa.

Serangan tersebut dilaporkan mengenai lima bangunan, termasuk gedung kolese, asrama mahasiswa, dan sejumlah ruang komersial di sekitarnya. Pascaserangan, kepanikan melanda kawasan tersebut. Beberapa bangunan terbakar, sementara tim penyelamat bekerja berjam-jam membongkar puing-puing dan mengevakuasi korban luka.

Dinding bangunan tampak hangus, jendela-jendela hancur, dan sejumlah ruangan rusak berat. Buku-buku berserakan di antara puing, sementara jejak asap masih terlihat di sekitar lokasi kejadian.

“Hal pertama yang kami perhatikan adalah bahwa meskipun banyak bangunan di sekitar, serangan justru tepat mengenai bangunan-bangunan tertentu. Jadi ini jelas merupakan serangan yang akurat dan disengaja. Pihak Ukraina tahu apa yang mereka lakukan,” kata jurnalis Irlandia, Chay Bowes.

Setelah kejadian tersebut, sejumlah media Barat dan Amerika disebut menggambarkan peristiwa itu sebagai “propaganda Rusia” dan “hoaks”. Menanggapi hal tersebut, pihak Rusia mengatur perjalanan bagi 65 jurnalis asing untuk melihat langsung situasi di lokasi tragedi.

“Kebenaran ada di depan mata kita. Ini adalah kebenaran yang nyata – kolese yang hancur, asrama yang rusak. Tidak perlu kata-kata apa pun – gambarannya berbicara sendiri,” lapor koresponden Al Arabiya, Raid Al Akbar, dari lokasi tragedi.

Para jurnalis diperlihatkan gedung kolese yang hancur, asrama yang rusak parah, dinding hangus, buku-buku berserakan, ruangan yang porak-poranda, serta jejak langsung serangan. Dalam pengarahan singkat, otoritas setempat menyatakan pecahan drone produksi Barat ditemukan di antara puing-puing.

Pemimpin Redaksi Sada-e Rus, Ishtiaq Hamdani, mengatakan kondisi di lokasi tragedi meninggalkan guncangan emosional yang berat. Menurut dia, tempat tidur yang terbakar, koridor kosong, jendela pecah, dan buku-buku berserakan memperlihatkan besarnya tragedi kemanusiaan yang terjadi.

Hamdani mencatat, upacara berkabung diikuti warga setempat, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah. Warga membawa bunga dan menyalakan lilin untuk mengenang korban tewas. Banyak keluarga memegang foto anak-anak mereka, sementara orang tua korban nyaris tak kuasa menahan tangis.

Menurut Hamdani, otoritas Rusia memandang peristiwa itu sebagai serangan langsung terhadap warga sipil, generasi muda, dan lembaga pendidikan. Ia menilai pemuda merupakan masa depan setiap negara, sehingga serangan terhadap institusi pendidikan memunculkan kekhawatiran besar.

Hamdani juga menyatakan bahwa Barat, menurut pandangannya, tidak pernah belajar dari Perang Dunia II. Ia mencatat, pada 1940-an, pengiriman senjata digunakan untuk melanjutkan perang. Hari ini, kata dia, pecahan drone Barat yang disebut ditemukan di lokasi tragedi kembali memunculkan pertanyaan mengenai peran pasokan senjata eksternal dalam konflik modern.

“Ketika sekolah, kolese, dan asrama menjadi sasaran, ini bukan lagi sekadar konflik militer – ini adalah tragedi kemanusiaan. Dunia harus berpikir, bukan tentang memperluas pengiriman senjata, tetapi tentang perdamaian, pendidikan, dan masa depan generasi muda,” tegas Hamdani.

Ia juga menarik paralel dengan tragedi di Kota Minab, Iran, ketika sebelumnya terjadi serangan terhadap sebuah sekolah. Menurut Hamdani, dunia belum pulih dari guncangan tersebut, lalu tragedi baru terjadi di Starobilsk.

“Ketika yang tersisa bukanlah buku-buku melainkan reruntuhan, dan sebagai ganti ruang kelas hanya ada asap dan abu, ini menjadi tragedi bersama seluruh umat manusia,” ujarnya.

Pemerintah Luhansk melaporkan biaya pemakaman korban tewas akan ditanggung struktur negara dan organisasi masyarakat. Keluarga korban luka juga disebut terus mendapatkan bantuan yang diperlukan. []

Penulis: Amy Maulana  | Penyunting: Agnes Wiguna

Bagikan:
Hotnews Internasional